Mahkota Binokasih, Simbol Keagungan dan Legitimasi Sejarah Sunda
📅 Minggu, 03 Mei 2026, 20:15 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/HO-Pemkab Sumedang
SUMEDANG, JAWA BARAT - Kilau emas yang memancar dari balik kaca di Keraton Sumedang Larang lebih dulu memikat mata sebelum maknanya benar-benar menyentuh kesadaran.
Di balik permukaannya yang berpendar, tersimpan jejak panjang sebuah peradaban yang nyaris kehilangan wujudnya.
Ia bukan sekadar benda pusaka, melainkan penanda bahwa sejarah Sunda pernah berdiri dengan kebesaran yang nyata.
Di Museum Prabu Geusan Ulun, Sumedang, Makuta Binokasih Sanghyang disimpan sebagai salah satu warisan terpenting dalam lintasan sejarah Sunda.
Mahkota itu memiliki berat sekitar 8 kilogram dan seluruhnya terbuat dari emas dengan nilai yang ditaksir sekitar 16 miliar rupiah.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Terdapat satu masterpiece, yaitu mahkota emas dengan berat mencapai 8 kilogram. Jika dinilai dengan harga emas saat ini yang sekitar dua juta rupiah per gram, nilainya bisa mencapai sekitar Rp16 miliar," ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat berkunjung ke Sumedang.
Namun bagi Fadli, angka sebesar itu bukanlah inti dari keberadaan Binokasih bagi sejarah Tatar Sunda.
"Namun, yang kita lihat bukanlah nilai emasnya, melainkan fakta bahwa di masa lalu kita memiliki kekayaan budaya yang luar biasa,” kata dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pernyataan Menteri Kebudayaan Fadli Zon tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami Binokasih bukan sebagai benda antik, melainkan penanda kebesaran sebuah masa karena dalam konteks sejarah Sunda.
Hal tersebut menjadi penting mengingat minimnya bukti sejarah saat ini, seperti jejak kerajaan, bentuk istana, hingga struktur fisik pusat pemerintahan nyaris tak lagi dapat ditemukan.
Di tengah keterputusan itulah, Binokasih hadir sebagai bukti fisik yang masih dapat disentuh dan menjadi salah satu artefak yang memberi tubuh pada narasi panjang peradaban Sunda.
“Sejarah Sunda itu kehilangan jejak. Jejak yang tersisa itu di antaranya batu tulis. Karena bentuk kerajaannya, istananya, tidak ada, tidak bisa ditemukan. Nah kemudian, jejak yang masih tersisa adalah Mahkota Binokasih,” ujar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Namun, keberadaan mahkota ini lama berdiri di persimpangan antara sejarah dan legenda karena ceritanya diwariskan turun-temurun, tetapi pembuktiannya kerap dipertanyakan.
Dedi mengaku mengamati pusaka itu dalam waktu lama, sebelum akhirnya memutuskan untuk membawanya ke ranah akademik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!