Rumput Laut Jadi Andalan Baru, Pemkab Kembangkan Budidaya di Perairan Simeulue
📅 Jumat, 01 Mei 2026, 08:15 WIB | Oleh: Tim PenulisBANDA ACEH – Pengembangan budi daya rumput laut di perairan memiliki potensi besar sebagai sumber pertumbuhan ekonomi berbasis kelautan.
Permintaan global yang terus meningkat—baik untuk industri pangan, farmasi, maupun kosmetik—menjadikan komoditas ini bernilai strategis.
Selain itu, budidaya rumput laut relatif ramah lingkungan dan dapat dilakukan oleh masyarakat pesisir dengan modal yang lebih terjangkau dibanding sektor perikanan tangkap.
Namun, optimalisasi sektor ini masih menghadapi tantangan seperti kualitas bibit, fluktuasi harga, hingga keterbatasan infrastruktur pascapanen.
Karena itu, diperlukan dukungan teknologi, akses pasar, serta penguatan kelembagaan agar rantai nilai rumput laut dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Simeulue mengembangkan budi daya rumput laut di perairan kabupaten kepulauan di Provinsi Aceh tersebut.
Kepala DKP Kabupaten Simeulue Supriman Juliansyah, di Simeulue, Rabu (29/4), mengatakan pengembangan budi daya rumput laut tersebut masih tahap uji coba guna mengetahui bagaimana kualitas rumput laut dihasilkan.
"Pengembangan budi daya rumput laut masih tahap uji coba guna mengetahui kualitas rumput laut. Jika kualitasnya bagus, maka akan dikembangkan lebih lanjut," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selama ini, kata Supriman Juliansyah, pihaknya belum mengetahui kualitas rumput laut yang dihasilkan masyarakat di Kabupaten Simeulue. Jika kualitasnya bagus, akan dikembangkan menjadi andalan kabupaten tersebut.
Menurut dia, lokasi program budi daya rumput laut tersebut di perairan Desa Labuhan Bajau, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue. Perairan tersebut dinilai layak untuk pengembangan budi daya rumput laut.
Uji coba pengembangan budi daya rumput laut dengan menggunakan media rakit terbuat dari bambu serta menggunakan jaring sebagai pelindung gangguan predator seperti penyu dan ikan.
"Target masa panen pada uji coba ini antara 30 hingga 60 hari. Kami juga melihat pengaruh umur panen terhadap kualitas produksi. Hasil panen nanti akan dilakukan uji kualitas," katanya.
Supriman Juliansyah mengharapkan lokasi percontohan ini berhasil dan budi daya rumput laut dikembangkan dengan skala besar di Perairan Simeulue. Apalagi sudah ada yang berminat menampung rumput laut dari Pulau Simeulue.
Ia mengatakan pengembangan budi daya rumput laut tersebut merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam Pulau Simeulue yang memiliki perairan jernih, namun belum di optimalkan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!