Di Tengah Krisis Pasokan, Ekspor Kakao RI Justru Menanjak
📅 Kamis, 18 Jun 2026, 18:35 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Ekspor kakao menjadi salah satu penopang penting devisa negara sekaligus mencerminkan potensi besar komoditas perkebunan Indonesia di pasar global.
Permintaan kakao dunia yang relatif stabil membuka peluang peningkatan nilai tambah, terutama jika didukung oleh penguatan hilirisasi dan peningkatan kualitas biji kakao domestik.
Namun, tantangan seperti produktivitas yang belum optimal, fluktuasi harga global, serta standar mutu internasional masih menjadi faktor yang perlu diatasi agar daya saing kakao Indonesia tetap terjaga dan berkelanjutan.
Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank menyampaikan, kinerja ekspor kakao Indonesia tumbuh positif sepanjang 2025 di tengah tekanan pasokan kakao global.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor kakao Indonesia pada 2025 mencapai 3,5 miliar dolar AS atau tumbuh 36 persen dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh kenaikan harga kakao global dan permintaan yang tetap kuat di pasar internasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (18/6), Kepala Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani menjelaskan meskipun volume ekspor kakao Indonesia tercatat turun sekitar 2 persen sepanjang 2025, nilai ekspor tetap meningkat seiring kenaikan rata-rata harga kakao global sebesar 6 persen.
Lemak dan minyak kakao (HS 180400) menjadi produk ekspor utama dengan kontribusi sekitar 62 persen dari total ekspor kakao nasional atau senilai 2,2 miliar dolar AS sepanjang 2025.
“Kenaikan harga terjadi di tengah terbatasnya pasokan kakao global yang menjaga harga komoditas tetap berada pada level relatif tinggi. Kondisi ini turut mendorong kinerja ekspor kakao Indonesia, yang didominasi produk olahan bernilai tambah sehingga memiliki daya saing kuat di pasar global,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rini menambahkan, pertumbuhan nilai ekspor kakao Indonesia mencerminkan semakin berkembangnya industri pengolahan di dalam negeri. Saat ini, struktur ekspor tidak lagi bertumpu pada bahan baku, melainkan pada produk olahan seperti lemak dan minyak kakao, bubuk kakao, serta pasta kakao.
“Hal ini menunjukkan semakin kuatnya daya saing industri kakao nasional sekaligus memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia,” ujar Rini.
Dari sisi pasar tujuan, Amerika Serikat dan India menjadi tujuan utama ekspor kakao Indonesia pada tahun 2025 dengan nilai ekspor yang hampir berimbang, masing-masing mencapai 619 juta dolar AS dan 618 juta dolar AS, atau sekitar 17 persen dari total ekspor nasional.
Sementara itu, China menempati posisi ketiga dengan nilai ekspor sebesar 446 juta dolar AS dan pangsa sekitar 12 persen. Ketiga pasar utama tersebut juga mencatat pertumbuhan yang signifikan, dengan kenaikan ekspor sebesar 141 persen ke Amerika Serikat, 196 persen ke India, dan 105 persen ke China.
Dalam perdagangan global, Indonesia tercatat berada di posisi ke-12 sebagai eksportir kakao dunia dengan pangsa pasar sekitar 3 persen atau senilai 2,6 miliar dolar AS pada tahun 2024.
Ekspor kakao utama dunia masih didominasi oleh Jerman, Belanda, dan Pantai Gading. Selain mencatat pertumbuhan ekspor yang signifikan, Indonesia masih memiliki peluang untuk meningkatkan ekspor kakao ke sejumlah pasar potensial.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!