Kadin Ungkap Beberapa Sektor Usaha Masih Punya Tenaga Hadapi Tekanan Global
📅 Jumat, 24 Apr 2026, 19:15 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Sejumlah sektor usaha masih menunjukkan optimisme pada awal 2026 meski tekanan ekonomi global meningkat, mencerminkan adanya daya tahan struktural di tingkat domestik.
Permintaan dalam negeri yang relatif stabil, ditopang konsumsi rumah tangga dan proyek strategis, menjadi bantalan utama di tengah volatilitas eksternal seperti suku bunga tinggi dan ketidakpastian geopolitik.
Selain itu, diversifikasi pasar serta adaptasi model bisnis berbasis efisiensi dan digitalisasi membantu pelaku usaha menjaga kinerja.
Namun, optimisme ini tetap bersifat selektif, karena sektor yang bergantung pada ekspor dan pembiayaan global masih rentan terhadap fluktuasi permintaan dan biaya modal yang tinggi.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai sejumlah sektor usaha seperti informasi dan komunikasi, jasa pendidikan, serta industri pengolahan masih menunjukkan optimisme kuat di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global pada awal 2026.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian di Jakarta, Jumat (24/4), menyampaikan bahwa hasil survei Business Pulse kuartal I 2026 menangkap dinamika sentimen pelaku usaha yang cenderung menurun, namun tetap menunjukkan keyakinan kuat di sektor-sektor tertentu.
"Sektor yang paling optimis itu ada tiga, informasi komunikasi, jasa pendidikan dan industri pengolahan, itu paling optimis daripada yang lain," katanya.
Ia memaparkan tahun 2026 diawali dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, mulai dari gangguan rantai pasok, fluktuasi harga komoditas, hingga tekanan nilai tukar. Kondisi ini turut memengaruhi persepsi dunia usaha terhadap kinerja bisnis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Survei yang dilakukan pada pertengahan Maret hingga awal April 2026 terhadap 210 anggota Kadin di 27 provinsi menunjukkan adanya penurunan sentimen bisnis dibandingkan kuartal sebelumnya.
Proporsi pelaku usaha yang menilai kondisi bisnis membaik turun dari 39,3 persen menjadi 25,2 persen, sementara yang menilai kondisi memburuk meningkat menjadi 40,5 persen.
Fakhrul menjelaskan tekanan tersebut dipicu oleh melemahnya permintaan, kenaikan biaya operasional, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Selain itu, disampaikan dia, sektor jasa pendidikan, akomodasi, serta industri pengolahan juga tercatat memiliki rencana investasi yang relatif lebih tinggi dibanding sektor lainnya. Ketiga sektor tersebut dinilai lebih adaptif dan tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak geopolitik.
Sebaliknya, sektor seperti perdagangan besar, jasa perusahaan, serta pertambangan dan penggalian menunjukkan tingkat pesimisme yang lebih tinggi.
Hal ini antara lain dipengaruhi oleh tekanan rantai pasok serta perubahan kebijakan pemerintah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!