Harga Kedelai Diawasi Ketat, Bapanas Ingatkan Importir Jangan Main Harga
📅 Kamis, 16 Apr 2026, 20:20 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Menjaga stabilitas pasokan kedelai sekaligus melindungi konsumen merupakan langkah strategis dalam menjaga keseimbangan pasar pangan, mengingat kedelai adalah bahan baku utama bagi industri pangan seperti tahu dan tempe.
Ketergantungan yang masih tinggi terhadap impor membuat pasokan dan harga kedelai rentan terhadap fluktuasi global, termasuk perubahan harga internasional dan nilai tukar. Dalam konteks ini, stabilisasi pasokan menjadi kunci untuk mencegah gejolak harga di tingkat konsumen.
Dari sisi perlindungan konsumen, intervensi pemerintah diperlukan untuk memastikan harga tetap terjangkau tanpa mengorbankan keberlangsungan usaha produsen.
Kebijakan seperti pengelolaan stok, pengaturan distribusi, hingga subsidi atau insentif dapat menjadi instrumen untuk menekan lonjakan harga.
Namun, kebijakan ini harus dirancang secara hati-hati agar tidak menimbulkan distorsi pasar atau membebani pelaku usaha di sektor hulu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Oleh karena itu, pendekatan yang terintegrasi menjadi krusial, termasuk upaya peningkatan produksi kedelai dalam negeri, diversifikasi sumber impor, serta penguatan rantai pasok.
Dengan strategi tersebut, stabilitas pasokan dapat terjaga, harga tetap terkendali, dan perlindungan konsumen dapat berjalan seiring dengan keberlanjutan industri pangan berbasis kedelai.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) meminta distributor dan importir kedelai mematuhi Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah guna menjaga stabilitas pasokan serta melindungi konsumen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan pemerintah terus berkoordinasi intensif dengan importir kedelai guna menekan kenaikan harga sehingga tidak membebani pengrajin tahu dan tempe.
"Kami intensif berkoordinasi dengan teman-teman importir. Bagaimana kondisinya saat ini, artinya naiknya tapi masih tidak terlalu signifikan dan dalam kategori sangat wajar. Namun demikian, secara ketentuan harga saat ini masih sesuai dengan harga acuan yang kita tetapkan," kata Ketut dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (16/4).
Ketut menyebutkan dalam data harga kedelai per 13 April yang diolah Bapanas berdasarkan informasi Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), harga kedelai di DKI Jakarta paling tinggi mencapai Rp11.000 per kilogram (kg). Sedangkan terendah mencapai Rp10.500 per kg.
"Secara keseluruhan, rata-rata harga kedelai di regional Jawa berada di angka Rp10.555 per kg," jelasnya.
Selanjutnya untuk regional Sumatera terpantau fluktuasi dengan rata-rata harga Rp11.450 per kg. Lalu rata-rata di regional Sulawesi mencapai di Rp11.113 per kg. Sementara di Bali-NTB dan Kalimantan masing-masing berada di Rp10.550 per kg dan 10.908 per kg.
"Namun sebenarnya kondisi harga kedelai di pengrajin tahu tempe ini masih sesuai dengan harga acuan yang kita tetapkan," ujar Ketut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!