Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Efek Berantai Konflik: Energi Naik, Harga Pangan Ikut Tercekik

📅 Jumat, 10 Apr 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Efek Berantai Konflik: Energi Naik, Harga Pangan Ikut Tercekik Doc: antara
Ket. Gejolak Global - Krisis Energi Dorong Biaya Produksi Pertanian Naik Hingga 40–50 Persen

Krisis energi global akibat ketegangan geopolitik mendorong lonjakan biaya produksi pertanian sehingga berisiko menekan penggunaan input, menurunkan hasil panen, dan memperparah kerawanan pangan.

JAKARTA – Gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menciptakan efek berantai terhadap sektor pangan. Lonjakan harga energi tak hanya meningkatkan biaya distribusi, tetapi juga menekan biaya produksi di tingkat hulu, terutama melalui kenaikan harga pupuk yang sangat bergantung pada energi dan bahan baku berbasis gas.

Kondisi tersebut memperbesar kerentanan pangan karena terjadi tekanan ganda: dari sisi biaya produksi dan rantai pasok. Jika pasokan pupuk terganggu dan harga energi tetap tinggi, produktivitas pertanian berisiko turun, sementara harga pangan cenderung naik.

Kombinasi ini dapat mendorong inflasi pangan dan melemahkan daya beli, terutama di negara berkembang yang masih bergantung pada impor energi dan bahan baku pertanian.

Pengamat Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Gusti Artama Gultom menilai krisis energi global yang dipicu ketegangan geopolitik telah meningkatkan biaya produksi pertanian secara signifikan, terutama melalui lonjakan harga pupuk, bahan bakar, dan distribusi. Potensi peningkatannya ditaksir bisa mencapai 40–50 persen dari total biaya produksi.

Jika berlanjut, lanjutnya, kondisi ini berisiko menurunkan penggunaan input oleh petani dan berdampak pada penurunan hasil panen dalam jangka menengah dan panjang serta meningkatnya kerawanan pangan. "Dampaknya tidak hanya pada harga pangan, tetapi juga pada meningkatnya jumlah penduduk yang menghadapi kerawanan pangan," tutur dia kepada Koran Jakarta, Kamis (9/4).

Di saat yang sama, fenomena El Nino berintensitas kuat memperparah tekanan dengan memicu kekeringan dan menurunkan produktivitas pertanian, termasuk di Indonesia. Kombinasi krisis energi dan tekanan iklim ini menciptakan perfect storm dalam sistem pangan, yakni pasokan tertekan, biaya naik, dan harga pangan berpotensi melonjak dengan volatilitas yang tinggi.

"Situasi seperti ini sangat rentan memicu volatilitas harga pangan yang tinggi serta memperbesar ketidakpastian dalam sistem pangan dunia," ujarnya.

Kunci Kedaulatan

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan ancaman krisis global ke depan akan berpusat pada tiga sektor utama, meliputi pangan, energi, dan air. Hal itu sejalan dengan proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam agenda pembangunan berkelanjutan.

“Ketahanan di tiga sektor tersebut menjadi kunci keselamatan dan kedaulatan bangsa,” ujar Presiden dalam taklimat pada rapat kerja pemerintah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4).

Secara domestik, Indonesia dinilai relatif aman dari sisi ketersediaan air, namun tantangan utama terletak pada pengelolaan dan pelestarian lingkungan. Kerusakan hutan dan tata kelola sumber daya yang lemah dapat memicu kekeringan, meski secara alamiah Indonesia memiliki potensi air yang cukup. Dengan demikian, fokus kebijakan tidak hanya pada ketersediaan, tetapi juga pada pengelolaan berkelanjutan untuk mengantisipasi risiko krisis di masa depan.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi menegaskan perusahaan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri sebagai fondasi ketahanan pangan nasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2

Piala Super Jerman Jatuh ke Tangan Muenchen

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Super Jerman Jatuh ke...
Daerah
Program-program Unggulan Go...
Daerah
Mandi di Pantai Tuturuga Be...
Olahraga
Inter Milan Rekrut Curtis J...
Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

22 Aug 2026
Pilihan Pembaca
# 8
# 8
Pemkot Buka Bandung Great Sale 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.