Rupiah Hari Ini Tertekan, Pasar Wait and See: Gencatan Senjata AS-Iran Masih Abu-abu
📅 Kamis, 09 Apr 2026, 17:57 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Rupiah kembali tertekan seiring meningkatnya sikap wait and see pelaku pasar terhadap kepastian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Ketidakjelasan implementasi kesepakatan damai—terutama setelah munculnya tudingan pelanggaran—mendorong investor cenderung mengamankan aset ke dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Kondisi ini mencerminkan tingginya sensitivitas rupiah terhadap risiko geopolitik global. Gencatan senjata yang belum kredibel belum mampu meredam premi risiko, sehingga pasar masih mengantisipasi potensi eskalasi lanjutan.
Dalam situasi seperti ini, penguatan dolar AS menjadi katalis utama pelemahan rupiah, sementara pergerakannya diperkirakan tetap fluktuatif dalam jangka pendek hingga ada kepastian arah konflik.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Kamis (9/4), melemah 78 poin atau 0,46 persen menjadi Rp17.090 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.012 per dolar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Research & Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Tiffani Safinia menilai pelemahan rupiah dipicu sikap menunggu pasar terkait kepastian kesepakatan gencatan senjata antara AS dengan Iran.
“Pasar masih menunggu kepastian implementasi kesepakatan tersebut, termasuk pembukaan jalur strategis energi global,” ucapnya di Jakarta.
Mengutip Anadolu, sebelumnya AS telah menerima proposal berisi 10 poin sebagai dasar yang dapat dijalankan untuk negosiasi dengan tujuan untuk mengakhiri perang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mengutip pernyataan dan laporan terkait, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) mengatakan proposal tersebut mencakup jaminan tidak adanya agresi terhadap Iran, kelanjutan kontrol Iran atas Selat Hormuz, pengakuan hak Teheran untuk pengayaan uranium, serta pencabutan semua sanksi utama dan sekunder AS.
Selain itu, tercantum pula mengenai penghentian resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dan Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional terhadap Iran, pembayaran kompensasi, penarikan pasukan tempur AS dari kawasan, serta penghentian permusuhan di semua garda depan, termasuk di Lebanon.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran menegaskan bahwa pembicaraan itu tidak berarti perang telah berakhir dan menekankan bahwa setiap kesepakatan akhir bergantung pada terpenuhinya syarat-syarat Iran serta penyelesaian secara rinci.
Jalur aman melalui Selat Hormuz juga akan dijamin selama periode negosiasi melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran.
Namun, Zionis Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melancarkan serangan udara besar-besaran di daerah Dahiyeh, sebelah selatan Beirut, Lebanon.
Tentara Israel sebelumnya menyatakan telah menyerang lebih dari 100 lokasi dalam waktu 10 menit di Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon selatan, dengan total wafat 254 orang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!