Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Hunian Hijau : Apakah Kebutuhan Atau Sekadar Penuhi Gengsi

📅 Kamis, 09 Apr 2026, 22:50 WIB | Oleh:

Sebaliknya, bagi kelompok yang sangat rasional soal uang, insentif jelas membantu mengurangi kekhawatiran akan biaya awal yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa kebijakan insentif tidak bisa disusun satu pola untuk semua.

Dipengaruhi Lingkungan Sosial

Dimensi lain yang tak kalah besar pengaruhnya adalah faktor sosial. Di Indonesia, keputusan membeli rumah jarang murni urusan individu. Nasihat orang tua, pengalaman teman, cerita tetangga, hingga pandangan tokoh masyarakat punya bobot tersendiri. Di lingkungan yang belum banyak membicarakan rumah hijau, kebijakan pemerintah dan sosialisasi formal menjadi sumber informasi utama.

Sebaliknya, di komunitas yang sudah punya norma kuat terkait gaya hidup hijau, suara tokoh lokal dan contoh nyata di lingkungan sekitar sering kali lebih menentukan daripada teks regulasi.

Wawancara dengan beberapa sosok dalam penelitian ini juga menggambarkan kenyataan di lapangan. Seorang profesional muda di Jakarta mengaku menjadikan kebijakan dan sertifikasi sebagai panduan; ia siap memenuhi syarat teknis selama prosedurnya jelas dan manfaatnya terasa.

Sementara itu, seorang eksekutif berpenghasilan tinggi menyatakan, ia terbuka pada konsep hunian hijau, tetapi hanya jika manfaat ekonominya jelas dan biaya tambahan seperti sertifikasi tidak terasa “mubazir”. Sementara seorang pemilik rumah di kawasan rural lebih menekankan kesehatan keluarga sebagai alasan utama memilih rumah dengan fitur hijau, terlepas dari ada tidaknya insentif maupun sertifikat.

Manfaat Bagi Masyarakat

Apa makna semua ini bagi masyarakat umum? Pertama, rumah hijau bukan hanya wacana kebijakan, tetapi menyangkut langsung mutu hidup: berapa besar tagihan listrik tiap bulan, seberapa sejuk rumah tanpa harus bergantung terus pada AC, dan seberapa aman udara di dalam rumah bagi anak-anak.

Kedua, sebagai calon pembeli, penting untuk mulai memasukkan aspek efisiensi dan kesehatan sebagai pertimbangan utama, bukan hanya lokasi dan tampilan.

Bagi pemerintah dan pelaku industri, pelajaran utamanya adalah perlunya strategi berlapis. Regulasi tetap penting sebagai dasar, tetapi harus diikuti cara komunikasi yang membuat manfaat rumah hijau mudah dipahami dan dirasakan. Insentif perlu disesuaikan dengan segmen sasaran dan didukung prosedur yang sederhana. Tokoh masyarakat, komunitas, dan media dapat menjadi jembatan antara bahasa kebijakan dan keputusan nyata di lapangan.

Jika regulasi, persepsi nilai, insentif, dan pengaruh sosial ini bisa dijahit menjadi satu, hunian hijau bukan lagi sekadar jargon dalam dokumen resmi. “Ia bisa menjelma menjadi rumah-rumah nyata yang lebih hemat, lebih sehat, dan lebih bersahabat dengan bumi dari komplek perumahan baru hingga kampung-kampung yang sedang berbenah di seluruh pelosok Indonesia,” tutup Ardra.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.