Stabilitas Diutamakan, Stimulus Ditahan: Sinyal Keras BI soal Suku Bunga
📅 Rabu, 08 Apr 2026, 16:45 WIB | Oleh: Tim PenulisKondisi tersebut berimplikasi pada Indonesia, baik melalui tekanan fiskal akibat kenaikan harga minyak dunia maupun melalui pasar keuangan.
Perry mencatat, aliran portofolio ke emerging markets pada tahun lalu bergerak volatil dengan tren meningkat. Namun sejak awal tahun, kondisi berbalik mengalami outflow yang cukup besar, baik pada instrumen obligasi, saham, maupun lainnya.
Selain itu, terjadi pula penguatan dolar AS yang semakin menambah tekanan terhadap pasar keuangan global.
“Dan ini membuat kenapa dari sisi Bank Indonesia kami perlu merekalibrasi berbagai kebijakan yang kami lakukan,” kata Perry.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, bank sentral tidak lagi menyinggung peluang untuk penurunan BI-Rate dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Maret 2026.
“(Dengan adanya) dampak perang Timur Tengah, itu kenapa kami dalam pernyataan ini tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga. Itu kami hilangkan dari pernyataan ini karena memang kemungkinan kami akan tetap mempertahankan BI-Rate selama ini,” kata Perry pada Selasa (17/3).
Pada Maret 2026, BI kembali mempertahankan BI-Rate pada level 4,75 persen. Langkah ini menandai dipertahankannya BI-Rate sejak Oktober 2025, setelah penurunan sebesar 150 bps sejak September 2024 atau 125 bps sepanjang tahun 2025.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!