Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Stabilitas Diutamakan, Stimulus Ditahan: Sinyal Keras BI soal Suku Bunga

📅 Rabu, 08 Apr 2026, 16:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Stabilitas Diutamakan, Stimulus Ditahan: Sinyal Keras BI soal Suku Bunga Doc: ANTARA FOTO/ Muhammad Adimaja
Ket. Petugas keamanan melakukan penjagaan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta.

JAKARTA – Ruang pelonggaran suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) melalui BI-Rate kian menyempit di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Tekanan eksternal—mulai dari lonjakan harga energi, penguatan dolar AS, hingga potensi capital outflow—mendorong bank sentral untuk lebih berhati-hati agar stabilitas nilai tukar dan inflasi tetap terjaga.

Dalam kondisi ini, prioritas kebijakan cenderung bergeser dari stimulus pertumbuhan ke penguatan stabilitas makro, sehingga peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat menjadi semakin terbatas.

“Meskipun BI-Rate kami pertahankan 4,75 persen, tampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan semakin lama semakin tertutup dan kami juga harus menyikapi untuk stabilitas,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI di Jakarta, Rabu.

Dia menambahkan bahwa bank sentral juga mulai memperkuat lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sejak awal tahun untuk menyeimbangkan antara keperluan menstabilkan nilai tukar rupiah, intervensi, serta menahan agar outflow tidak terlalu besar.

“SRBI yang tahun lalu kami mampu turunkan secara cepat, ini memang harus kita lakukan rekalibrasi supaya memang menarik inflow,” kata dia.

Ia pun memastikan bahwa langkah ini tetap disertai dengan upaya menjaga kecukupan likuiditas perbankan. Dalam hal ini, uang primer (M0) tetap dijaga tumbuh pada level double digit, yakni sekitar 13,3 persen per Februari 2026.

Selain itu, BI juga terus melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder. Hingga saat ini, realisasi pembelian secara year to date telah mencapai Rp90,05 triliun.

“Inilah beberapa rekalibrasi di mana kebijakan moneter memang bobotnya sekarang lebih banyak untuk pro-stability,” kata Perry.

Ia menjelaskan, prospek perekonomian global semakin memburuk, terutama dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Kondisi ini berdampak terhadap ekonomi dan keuangan global melalui jalur komoditas, perdagangan, dan finansial.

Pada jalur komoditas, terjadi kenaikan harga, khususnya minyak. Di jalur perdagangan, terjadi gangguan rantai pasok (supply chain). Sementara pada jalur finansial, ketidakpastian pasar keuangan global juga meningkat.

Perry mencatat, harga minyak dunia bahkan melonjak sejak Februari hingga Maret yang sempat mencapai 122,95 dolar AS per barel dan masih berfluktuasi. Selain itu, harga emas juga meningkat sepanjang 2025 dan tetap berada pada level tinggi.

Dampak ketidakpastian global juga terlihat dari meningkatnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), baik tenor 2 tahun maupun 10 tahun.

Jika pada tahun lalu yield cenderung menurun, namun kini US Treasury tenor 2 tahun maupun 10 tahun meningkat cukup tajam sejak memanasnya konflik di Timur Tengah. Kenaikan ini antara lain dipengaruhi oleh pelebaran defisit fiskal AS, termasuk untuk pembiayaan perang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Liburan di kebun binatang mini Taman Situ Cibinong Plaza Bogor

Liburan di kebun binatang mini Taman Situ Cibinong Plaza Bogor

13 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.