Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Agar Tidak Rentan, Krisis Harus Jadi Momentum Perkuat Kemandirian Pangan

📅 Rabu, 25 Mar 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

“Memaksakan penanaman komoditas yang tidak sesuai dengan kondisi alam lokal justru akan memicu pemborosan biaya, penggunaan pupuk kimia yang berlebihan, dan kerusakan lingkungan jangka panjang,”tegas Muliarta.

Kebergantungan antarnegara dalam sistem pangan global papar dia sebenarnya berfungsi sebagai jaring pengaman bersama ketika terjadi bencana alam di suatu wilayah. Saat satu negara mengalami gagal panen akibat cuaca ekstrem, akses ke pasar dunia menjadi penyelamat agar rakyatnya tidak kelaparan. Namun, kerentanan sistem itu memang sangat terasa ketika konflik besar terjadi, seperti ketegangan di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi dan jalur pengiriman barang.

Secara teknis, pertanian modern sangat bergantung pada bahan bakar dan gas alam, karena gas merupakan bahan baku utama untuk pembuatan pupuk. Ketika konflik di wilayah penghasil energi memanas, harga pupuk dunia akan melonjak, yang secara otomatis menaikkan biaya tanam petani dan berujung pada mahalnya harga makanan.

Laporan dari Badan Pangan Dunia mengenai ancaman tambahan puluhan juta orang yang kelaparan pada 2026 menunjukkan bahwa krisis ini lebih merupakan masalah keterjangkauan harga daripada ketiadaan barang.

Sebenarnya, menurut Muliarta, bumi menghasilkan jumlah kalori yang cukup untuk semua orang, namun gangguan distribusi dan lonjakan harga akibat konflik membuat masyarakat miskin tidak mampu lagi membelinya.

“Fenomena ini membuktikan bahwa hanya fokus pada peningkatan panen di dalam negeri saja tidaklah cukup jika daya beli masyarakat runtuh akibat inflasi dan mahalnya biaya logistik,”ungkap Muliarta.

Memperkuat ketahanan pangan tidak seharusnya diartikan sebagai menutup diri dari dunia luar, melainkan membangun sistem dalam negeri yang tahan banting. Langkah itu bisa dilakukan dengan mengoptimalkan konsumsi pangan lokal yang lebih kuat menghadapi iklim setempat, serta membangun gudang penyimpanan raksasa dengan teknologi modern untuk menjaga stok saat harga dunia tidak stabil.

Kekuatan pangan yang sejati tercapai ketika sebuah negara mampu memproduksi apa yang ia bisa secara efisien, namun tetap cerdas dalam mengelola hubungan dagang internasional agar rakyatnya tetap bisa makan dengan harga terjangkau, bahkan di tengah kemelut politik dunia yang paling berat sekalipun.

Like, Share, Comment:

Komentar (1)

Jiwa (Perkasa)
Jiwa (Perkasa)
25 Mar 2026, 01:53 WIB.

Komentar dihapus otomatis karena terindikasi sebagai spam

Balas
Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Daerah
Kemeriahan Gebyar PAUD Yogy...
Megapolitan
Pelatihan Mengemudi Becak L...
Olahraga
Ganda Campuran Indonesia Ra...
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.