Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Perlu Percepat Ekosistem Baterai Nasional

3 Kamis, 25 Jun 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Perlu Percepat Ekosistem Baterai Nasional Pemerintah Perlu Percepat Ekosistem Baterai Nasional Doc: antara
Ket. Yannes M Pasaribu Pengamat dan Peneliti Kendaraan listrik ITB - Masalah baterai sebagai komponen inti baterai EV yang tidak juga mulai diproduksi di Indonesia, ini adalah inti permasalahannya.

Kebijakan pemerintah selama ini masih lebih banyak berfokus pada perakitan kendaraan dan insentif bagi konsumen.

Jakarta – Ambisi Indonesia menjadi pemain utama industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Asean dinilai masih menghadapi pekerjaan rumah besar. Meski pemerintah gencar mendorong hilirisasi nikel dan menawarkan investasi baterai bernilai ratusan miliar dollar AS, penguatan ekosistem industri kendaraan listrik dinilai belum berjalan seimbang, terutama pada sektor komponen dan rantai pasok dalam negeri.

Pengamat industri otomotif sekaligus peneliti kendaraan listrik Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai daya saing industri kendaraan listrik nasional tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya mineral. Indonesia masih perlu membenahi kepastian regulasi, memperkuat rantai pasok komponen, dan mendorong produksi massal kendaraan listrik yang terjangkau.

“Untuk membuat iklim BEV Indonesia lebih kompetitif dibanding negara Asean lain, kebijakan perlu diarahkan pada tiga hal utama, yang pertama memberikan kepastian regulasi jangka panjang dan insentif yang lebih jelas bagi produsen komponen BEV,” kata Yannes, sebagaimana diberitakan Antara di Jakarta.

Menurut dia, kebijakan pemerintah selama ini masih lebih banyak berfokus pada perakitan kendaraan dan insentif bagi konsumen, sementara industri komponen lokal belum mendapatkan dukungan yang memadai. Akibatnya, ketergantungan terhadap impor komponen utama masih tinggi.

Yannes menyoroti lambatnya pengembangan industri baterai dalam negeri, padahal baterai merupakan komponen paling penting dalam kendaraan listrik.

“Masalah baterai sebagai komponen inti BEV yang tidak juga mulai diproduksi di Indonesia, ini adalah inti permasalahannya,” ujarnya.

Ia menilai hilirisasi nikel memang memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok bahan baku baterai global. Namun, keberhasilan di sektor hulu belum otomatis menciptakan industri kendaraan listrik yang kuat jika pengembangan komponen dan rantai pasok masih tertinggal.

“Hilirisasi nikel lebih berfokus pada bahan baku baterai, sementara tantangan utama industri komponen saat ini adalah lemahnya ekosistem supply chain komponen BEV dari tier 1 hingga tier 4,” katanya.

Kondisi tersebut membuat Indonesia berisiko hanya menjadi pemasok bahan baku dan lokasi perakitan, tanpa memperoleh nilai tambah maksimal dari industri kendaraan listrik. Padahal, sejumlah negara Asean telah bergerak lebih cepat membangun ekosistem industri yang terintegrasi.

“Vietnam sudah memiliki ekosistem BEV lebih matang dan mampu menarik investasi pemasok asing bahkan hingga mengekspornya ke berbagai pasar dunia,” kata Yannes.

Ekonomi Sirkular

Di sisi lain, pemerintah tetap optimistis. Direktur Strategi dan Tata Kelola Hilirisasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Ahmad Faisal Suralaga mengatakan Indonesia membuka peluang investasi hingga 121 miliar dollar AS untuk membangun ekosistem manufaktur baterai nasional.

“Enam bahan utama untuk membuat baterai EV, empat dari mereka berada di Indonesia. Kita memiliki nikel, bauksit, mangan, dan kita memiliki tembaga,” kata Ahmad.

Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi salah satu dari lima produsen baterai kendaraan listrik terbesar dunia pada 2045 melalui hilirisasi mineral dan penguatan industri baterai dari hulu hingga hilir. Selain itu, pemerintah juga mulai mengembangkan ekonomi sirkular melalui program daur ulang baterai.

“Untuk mencapai keberlanjutan sekarang pemerintah Indonesia memberikan kebijakan bahwa kita tidak hanya berhenti pada mengambil sumber daya untuk produksi baterai tetapi kita juga akan bergerak ke recycling,” ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

02 Nov 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.