Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Urban Farming Hapus Citra Bertani Itu Kotor

📅 Kamis, 25 Jun 2026, 01:05 WIB | Oleh:
Urban Farming Hapus Citra Bertani Itu Kotor Doc: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa
Ket. epala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok dalam siniar yang diadakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Rabu (24/6/

JAKARTA – Selama ini citra bertani itu kotor. Hal itu sangat melekat dalam benak orang, utamanya kaum muda sehingga menjauhi pertanian. Namun, di era sekarang, pertanian tidak lagi seperti itu. “Urban farming sudah menggunakan teknologi pertanian modern, sehingga tidak ada kotor-kotor,” tandas Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta, Hasudungan Sidabalok.

Dia menyatakan ini dalam kegiatan seminar di Jakarta, Rabu. Festival ini memamerkan teknologi pertanian modern di ibu kota beserta produk-produk pertanian. “Ada citra namanya pertanian itu kotor. Tapi sebenarnya untuk Jakarta, kami lebih mengedepankan namanya teknologi pertanian modern,” ujar Hasudungan Sidabalok dalam siniar yang diadakan Pemerintah Provinsi, Rabu.

Masyarakat yang tertarik untuk melihat teknologi pertanian modern yang cocok diterapkan di Jakarta, produk-produk pertanian dari para petani, dan mengikuti pelatihan-pelatihan terkait pertanian perkotaan, dapat mengunjungi Festival Urban Farming yang berlangsung 4-5 Juli di Istora Senayan, Jakarta. “Untuk mengikuti Festival Urban Farming tidak dipungut biaya,” ujar Hasudungan.

Selain melihat pameran, masyarakat juga dapat mengikuti kegiatan talkshow yang membahas berbagai topik. Ini mulai dari peluang bisnis zero waste, menjelajahi coffee universe, rahasia gaya hidup sehat para pekerja perkotaan, bisnis pertanian-perikanan, hingga risiko zoonosis. Ada juga cara hidup aman bersama hewan peliharaan.

Keren

Ada juga kegiatan vaksinasi rabies untuk 500 ekor kucing. Kemudian, edukasi terkait hewan peliharaan, bazar UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) binaan Dinas KPKP. Dia pun berharap melalui Festival Urban Farming, produk pertanian para petani Jakarta semakin dikenal sekaligus menunjukkan kepada khalayak bahwa bertani itu keren.

“Jadi, kaum muda tidak perlu takut untuk bertani. Kami harapkan Festival Urban Farming bisa lebih menjangkau masyarakat secara luas,” ungkap Hasudungan. Untuk sekarang ini, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta memiliki lebih dari 1.600 lokasi pertanian perkotaan (urban farming) sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan ibu kota.

Lokasi-lokasi urban farming ada di rooftop, sekolah, lahan-lahan tidur, dan gang-gang perkampungna. Kemudian, juga ada beberapa kelompok tani sebagai sumber daya pertanian perkotaan. Selain itu, tercatat ada 4.000 sumber daya pertanian di Jakarta yang menjalankan kegiatan pertanian perkotaan.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan animo masyarakat untuk melaksanakan pertanian perkotaan tinggi. “Kami berharap masyarakat bisa menjual produk-produk yang dihasilkan dari urban farming. Minimal, mereka bisa memenuhi sendiri, tidak perlu membeli,” ujar Hasudungan.

Kegiatan pertanian perkotaan merupakan salah satu upaya meningkatkan ketersediaan pangan. Kegiatan ini dilakukan mengingat sebanyak 98 persen pangan Jakarta berasal dari luar Jakarta. Manfaat yang diperoleh dari melakukan pertanian sendiri, selain mendapatkan pangan dari hasil budidaya yang terjamin kualitasnya, juga meningkatkan kualitas udara.

“Langkah-langkah strategis yang kami laksanakan untuk meningkatkan urban farming, dengan mendorong masyarakat ambil bagian menanam di rumah sendiri atau tempat-tempat yang bisa dimanfaatkan,” tutur Hasudungan.

Sebelumnya, suku dinas KPKP Jakarta Timur menyelenggarakan bazar dalam acara East Jakarta Agriculture Festival (EastJakFest) dengan mampu menghasilkan 77,6 juta ruypiah. Kepala Suku Dinas KPKP Jakarta Timur, Taufik Yulianto, mengungkapkan, EastJakFest merupakan bagian dari upaya memperkuat ekonomi lokal melalui pemberdayaan pelaku usaha di tingkat kecamatan.

“Bazar ini menjadi ruang bagi pelaku usaha pangan, pertanian, dan produk lokal untuk meningkatkan penjualan sekaligus memperluas jaringan pemasaran,” ujar Taufik. Kontribusi terbesar berasal dari Kecamatan Cipayung 16,4 juta dan terkecil Jatinegara 2,3 juta.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Belajar merangkai kain batik di Semarang

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Ekonomi
Digitalisasi ekonomi melalu...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.