Tradisi Pasola Gaura di Sumba Bawa Dampak Ekonomi bagi Warga
📅 Minggu, 15 Mar 2026, 14:18 WIB | Oleh: Tim PenulisKUPANG – Berbagai daerah mulai semakin serius mengembangkan atraksi budaya sebagai cara untuk menarik lebih banyak wisatawan.
Kesenian tradisional, ritual adat, hingga festival budaya dikemas lebih menarik agar tidak hanya menjadi warisan yang dijaga, tetapi juga pengalaman yang bisa dinikmati para pengunjung.
Pengembangan ini biasanya dilakukan dengan menghadirkan pertunjukan rutin, memperbaiki tata panggung dan fasilitas pendukung, hingga melibatkan masyarakat setempat sebagai bagian dari atraksi.
Dengan begitu, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga merasakan langsung kekayaan budaya yang dimiliki daerah tersebut.
Selain memperkaya pilihan destinasi wisata, atraksi budaya juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mulai dari pelaku seni, perajin, hingga pedagang lokal ikut merasakan manfaatnya ketika kunjungan wisatawan meningkat. Harapannya, budaya tetap lestari sekaligus menjadi penggerak ekonomi daerah.
Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Johanis Asadoma menilai atraksi budaya Pasola Gaura di Sumba Barat berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat daerah melalui pengembangan pariwisata dan pemasaran produk lokal.
"Selain sebagai atraksi budaya, Pasola juga memiliki potensi besar untuk mendongkrak ekonomi masyarakat," katanya di Sumba Barat, NTT, Minggu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Asadoma, ke depan kegiatan ini bisa dimanfaatkan sebagai peluang bagi masyarakat untuk memasarkan produk lokal seperti makanan, minuman, maupun tenun khas daerah.
Pelaksanaan Pasola, yang sudah menjadi tradisi masyarakat di Pulau Sumba, khususnya di Desa Lamboya, Kabupaten Sumba Barat itu, sejak pagi sudah diguyur hujan dan kondisi jalan menuju lokasi menjadi becek dan licin, namun ribuan masyarakat tetap antusias memadati lapangan untuk menyaksikan tradisi adu ketangkasan berkuda tersebut.
Pasola merupakan tradisi adat masyarakat Sumba yang menampilkan ketangkasan para penunggang kuda yang saling melempar lembing di arena terbuka.
Tradisi budaya ini merupakan ritual adat sebagai ungkapan syukur kepada leluhur serta simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan tradisi.
Asadoma mengaku bangga karena dapat menyaksikan secara langsung atraksi Pasola untuk pertama kalinya.
"Selama ini saya hanya melihat Pasola melalui media, tetapi hari ini saya datang langsung untuk menyaksikannya," ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!