Wali Kota Bandung Ajak Anak-Anak Biasakan Pilah Sampah Sejak Dini
📅 Rabu, 11 Mar 2026, 00:30 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Humas Kota Bandung
BANDUNG - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengajak masyarakat untuk menanamkan kesadaran pengelolaan sampah sejak dini kepada anak-anak.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri program Ramadan 1447 Hijriah bertajuk “Bahagiakan 1000 Anak Yatim” yang diselenggarakan Yayasan Darul Hikam di Hotel Ultima Horison Bandung, Senin (9/3).
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Farhan menyebut pentingnya edukasi pemilahan sampah organik dan non-organik kepada anak-anak sebagai langkah awal dalam mengatasi persoalan sampah di Kota Bandung.
Menurut dia, saat ini Kota Bandung tengah menghadapi tantangan besar terkait meningkatnya sampah organik, terutama dari sisa makanan atau food waste. Salah satu sumbernya berasal dari program makan bergizi gratis (MBG) yang tengah berjalan di berbagai sekolah.
“Apalagi sekarang ini dalam rangka menyukseskan program Presiden Prabowo yaitu Makan Bergizi Gratis. Anak-anak sekolah yang menerima program itu menghasilkan sisa makanan atau food waste yang cukup besar,” ujar Wali Kota Farhan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menjelaskan, saat ini terdapat sekitar 222 dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Bandung yang melayani ribuan siswa setiap harinya. Dalam praktiknya, sering ditemukan banyak sisa makanan di tempat makan yang dikumpulkan setelah kegiatan makan bersama.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kota Bandung tengah merancang sistem pengolahan sampah makanan langsung di lingkungan sekolah.
“Ke depan kami akan bersinergi agar sisa makanan ini tidak dikembalikan ke dapur atau ke SPPG. Tetapi diolah di sekolah masing-masing, paling tidak dipilah terlebih dahulu di sekolah,” tutur dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jika sekolah belum memiliki sarana pengolahan sampah organik, maka pemerintah kewilayahan melalui kelurahan akan membantu mengelola sampah tersebut.
“Apabila sekolah belum mampu membuat sarana pengolahan sampah organiknya, maka pihak kewilayahan dari kelurahan akan mengambil alih sampah tersebut untuk diolah di wilayahnya,” kata dia.
Langkah tersebut merupakan bagian dari target besar Pemerintah Kota Bandung untuk memastikan tidak ada sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Sehingga tercapai target, tidak ada satu pun sampah organik yang kemudian dibawa dan dibuang ke tempat pembuangan akhir. Semuanya harus selesai di wilayah masing-masing, termasuk di sekolah,” tutur Wali Kota Farhan.
Wali Kota Farhan menilai edukasi pemilahan sampah harus dimulai dari anak-anak. Dengan memahami perbedaan sampah organik dan non-organik sejak dini, diharapkan kebiasaan tersebut akan terbawa hingga dewasa.
Ia mencontohkan negara-negara maju seperti Jepang dan Denmark yang berhasil mengelola sampah secara efektif karena budaya pemilahan sudah tertanam kuat di masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!