Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Marak OTT Bupati, Integritas Pejabat Perlu Dievaluasi

📅 Rabu, 11 Mar 2026, 03:07 WIB | Oleh: Tim Penulis
Marak OTT Bupati, Integritas Pejabat Perlu Dievaluasi Doc: Antara
Ket. Anggota Komisi II DPR RI Indrajaya.

JAKARTA - Anggota Komisi II DPR RI Indrajaya meminta agar pembinaan integritas pejabat dievaluasi imbas munculnya gelombang kepala daerah atau bupati terkena operasi tangkap tangan (OTT) terkait dugaan kasus korupsi.

Menurut dia, OTT terhadap sejumlah kepala daerah merupakan indikator serius kegagalan pembinaan kepemimpinan di tingkat daerah dan pembinaan integritas pejabat publik belum menyentuh dimensi moral yang paling mendasar.

“Gelombang OTT ini adalah indikator kegagalan pembinaan kepemimpinan daerah. Berulangnya operasi tangkap tangan menunjukkan bahwa pembinaan integritas pejabat publik belum menyentuh aspek moral yang paling mendasar,” kata Indrajaya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (10/3).

Selain itu, dia juga menilai perlu ada evaluasi terhadap program retret kepala daerah. Menurut dia, retret tersebut pada dasarnya memiliki tujuan baik sebagai forum konsolidasi nasional, tetapi maraknya kasus OTT menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas substansi pembinaannya.

“Maraknya OTT menunjukkan kita perlu menilai kembali apakah materi retret benar-benar membentuk integritas atau hanya menjadi agenda simbolik,” katanya.

Pembinaan Kader

Ia juga menilai sejumlah kasus yang muncul belakangan menunjukkan lemahnya proses kaderisasi politik sebelum seseorang maju menjadi kepala daerah.

Dia pun menyoroti pernyataan Bupati Pekalongan Fadia Arrafiq yang terjaring OTT KPK. Fadia mengaku tidak memahami aturan karena latar belakangnya sebagai artis setelah terjaring OTT KPK. “Pernyataan tersebut menunjukkan kegagalan serius dalam proses kaderisasi politik. Partai politik seharusnya menjadi sekolah kepemimpinan yang memastikan calon kepala daerah memahami tata kelola pemerintahan, etika jabatan, dan hukum administrasi negara,” kata dia.

Sebaiknya Anda baca juga:

Peneliti senior dari Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli mengatakan partai politik (parpol) perlu mengevaluasi secara komprehensif soal mekanisme pengawasan dan pembinaan kepada kader untuk menghindari terulangnya kasus korupsi yang dilakukan kepala daerah.

“(Parpol) perlu evaluasi komprehensif atas mekanisme pengawasan dan pembinaan sehingga kejadian serupa tidak terulang kembali,” ujarnya di Jakarta, Selasa.

Dalam waktu yang berdekatan, KPK melakukan OTT kepada sejumlah kepala daerah, di antaranya Bupati Pekalongan Fadia Arafiq dan Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari.

Terjadinya dua kasus tersebut, Lili menuturkan adanya faktor pengawasan dan kontrol yang lemah, mulai dari instansi pemerintah daerah seperti inspektorat, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) maupun parpol pengusung kepala daerah.

“Mestinya ketika kerap terjadi kasus korupsi dan OTT dari kepala daerah, kejadian tidak boleh terulang kembali karena menunjukkan adanya faktor kelemahan dalam pengawasan dan pembinaan,” ucapnya.

Sebelumnya, Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari bersama tujuh rekan lainnya dibawa ke Jakarta pada Selasa pagi untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut setelah dilakukan OTT oleh KPK pada Senin sore (9/3) saat menghadiri kegiatan internal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Hendak Terbang, Warga AS Di...
Megapolitan
Seorang Tentara AS yang Ter...
Luar Negeri
Bantu Rumah Tangga, Jepang ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.