SDA Masih Kuat, Energi Hijau Melonjak: BKPM Beberkan Arah Investasi Terkini
📅 Kamis, 26 Feb 2026, 17:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ HO-PT PLN IP
JAKARTA – Sektor berbasis sumber daya alam (SDA) hingga energi hijau kian diminati investor, seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap komoditas strategis dan dorongan transisi energi.
Negara dengan cadangan mineral, hasil tambang, serta potensi energi terbarukan yang besar memiliki daya tarik kuat karena mampu memasok bahan baku industri sekaligus mendukung agenda dekarbonisasi.
Secara analitis, pergeseran minat investasi ini dipengaruhi oleh dua faktor utama: stabilitas pasokan dan keberlanjutan. Di satu sisi, SDA seperti nikel, tembaga, dan batu bara masih menjadi tulang punggung industri.
Di sisi lain, energi hijau—mulai dari tenaga surya, hidro, hingga panas bumi—menjadi instrumen jangka panjang untuk menjawab tuntutan Environmental, Social, and Governance (ESG) serta target net zero emission.
Jika didukung kepastian regulasi dan hilirisasi yang konsisten, kombinasi SDA dan energi hijau tidak hanya memperkuat struktur ekonomi, tetapi juga meningkatkan nilai tambah domestik serta daya saing investasi di tengah persaingan global.
Sebaiknya Anda baca juga:
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu menyebutkan sektor berbasis sumber daya alam (SDA) hingga energi hijau menjadi sektor yang paling diminati untuk berinvestasi di Indonesia
“Kalau sektor yang paling diminati sudah pasti adalah sektor yang kaitannya dengan kekuatan sumber daya kita,” ujarnya ditemui di Jakarta, Kamis (26/2).
Todotua menyampaikan hal tersebut menjawab pertanyaan terkait dinamika kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) dan minat sektor investasi di Tanah Air.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia merinci, sektor mineral, seperti minyak dan gas, agrikultur, kehutanan (forestry), serta maritim menjadi daya tarik utama karena Indonesia memiliki cadangan sumber daya alam yang sangat beragam dengan volume besar.
Selain itu, hilirisasi dari sektor tersebut juga menjadi salah satu kontributor terbesar investasi karena berkaitan langsung dengan pengolahan SDA di dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah.
Menurutnya, pertumbuhan investasi di sektor industrialisasi dan manufaktur turut mendorong kenaikan investasi di sektor logistik, seiring meningkatnya kebutuhan rantai pasok (supply chain).
“Kalau dia growth di sektor industrialisasi, di sektor manufacturing tentunya logistiknya juga pasti akan growth,” katanya.
Di sektor energi hijau (green energy) diminati karena Indonesia memiliki potensi besar pemanfaatan mencapai sekitar 3.700 gigawatt, mulai dari tenaga surya hingga panas bumi (geothermal).
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan utama adalah memastikan iklim investasi tetap kondusif, kompetitif, dan berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!