Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Captive Power: Mimpi Buruk bagi Dekarbonisasi

📅 Kamis, 19 Feb 2026, 21:36 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Captive Power: Mimpi Buruk bagi Dekarbonisasi Doc: istimewa
Ket. ki-ka: Asisten Profesor IT PLN, Zainal Arifin, Direktur Riset dan Inovasi, IESR Raditya Wiranegara dan Koordinator Ketenagalistrikan, Hilirisasi, dan Kawasan Ekonomi Kementerian ESDM Fadolly Ardin dalam Media Editorial Forum Report “The Indonesia Captive Power Decarbonization Blueprint” di Jakarta, Kamis (19/2)

JAKARTA-Direktur Riset dan Inovasi, Institute for Essential Services Reform (IESR) Raditya Wiranegara menyoroti pembangkit listrik captive (captive power) yang terus mendominasi sektor industri. Sebab kebanyakan menggunakan energi kotor atau fosil.

Pembangkit listrik captive adalah pembangkit listrik yang dibangun dan dioperasikan langsung oleh pelaku industri untuk memenuhi kebutuhan listriknya sendiri, tanpa terhubung ke sistem kelistrikan nasional. 

Di Indonesia, pembangkit listrik captive banyak digunakan di sektor industri padat energi seperti smelter nikel, aluminium, baja, dan industri pengolahan lainnya. "Sebagian besar jenis pembangkit listrik captive yang digunakan masih bersumber dari bahan bakar fosil seperti batu bara dan gas,"ucapnya dalam Media Editorial Forum Report “The Indonesia Captive Power Decarbonization Blueprint” di Jakarta, Kamis (19/2)

Raditya mengungkapkan risiko tersembunyi di balik ekspansi pembangkit listrik captive. Permintaan energi, khususnya listrik dari sektor industri di Indonesia berkembang sangat cepat, tetapi pertumbuhan suplainya masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, terutama batu bara. 

Ketergantungan ini menciptakan dua risiko utama. Risiko daya saing ekonomi akibat tekanan pasar global terhadap produk beremisi tinggi, dan risiko ketidaksesuaian dengan target iklim dan komitmen Kesepakatan Paris

"Apabila tidak dibatasi, pembangkit listrik captive berbasis fosil dapat membuat Indonesia semakin bergantung pada energi kotor dan sangat sulit untuk beralih ke energi bersih dalam puluhan tahun ke depan,"tegasnya

Dia menyebut tren pertumbuhan yang melonjak tidak terkendali. Dalam periode 2019–2024, kapasitas pembangkit listrik captive meningkat dari 14 giga watt (GW) menjadi 33 GW. Terdapat tambahan 17,4 GW berasal dari pembangkit batu bara dan gas dalam project pipeline setelah 2024. Pertumbuhan yang signifikan didorong oleh program hilirisasi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Saat ini sudah dalam tahap konstruksi sekitar 5 GW pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara dan 2,5 GW pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) berbasis gas. Diproyeksikan pada tahun 2060, kebutuhan permintaan listrik sektor industri akan meningkat sebesar 43% persen dari total kebutuhan nasional sekitar 1.813 Terawatt hour (TWh). 

"Jika tidak diimbangi dengan penguatan dan perluasan jaringan, serta kemudahan akses pelaku industri terhadap energi terbarukan. Maka pembangkit listrik captive ini dapat menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca di sektor ketenagalistrikan,"paparnya.

Pertumbuhan yang signifikan dari pembangkit listrik captive berbahan bakar fosil mengakibatkan peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor ketenagalistrikan. Tercatat pada tahun 2024, emisi dari Pembangkit Listrik Captive meningkat mencapai 131 MtCO2 (sekitar 37% dari total emisi di sektor ketenagalistrikan). Jika pertumbuhan Pembangkit Listrik Captive fosil dibiarkan, maka pada tahun 2037 emisi CO2 akan mencapai 166 MtCO2 (RUKN 2025).

Tekanan global mempengaruhi industri Indonesia

Mulai 2026, Uni Eropa akan menerapkan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), yang mengenakan biaya karbon pada produk impor beremisi tinggi.

Produk Indonesia seperti aluminium dan baja saat ini memiliki intensitas emisi 45,5 hingga 89,9 persen lebih tinggi dibandingkan benchmark Uni Eropa.

Dampaknya ialah risiko kehilangan akses pasar; penurunan daya saing ekspor; serta potensi penurunan investasi jika industri tidak segera bertransisi

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Asosiasi Ojek Online: Aturan Bagi Hasil 92:8 Persen Beri Dampak Nyata Pengemudi Ojol
    Preview komentar:
    Bener bang,,, potongan 8% itu hanya omon omon ...
    Betul tuh bang banyak bacot,,Lebel aja 8% hasil ...
  • Ketahanan Pangan Diperkuat Rp195,3 Triliun, Mampukah Harga Pangan Ikut Stabil?
    Preview komentar:
    Meskipun fokus RAPBN 2027 ini sangat kuat pada ...
  • Tenun Dinilai Menekraf Harus Ditampilkan Agar Nilai Ekonominya Berkembang
    Preview komentar:
    Langkah strategis Kementerian Ekraf dalam mensertifikasi desain tenun ...
Olahraga
Rodri Selangkah Lagi Tingga...
Daerah
Perairan Rupat Riau Geger! ...
Olahraga
Harry Maguire Berharap Rash...
Daerah
SIM Keliling 24 Jam Sidoarj...
Luar Negeri
Ukraina akan Mampu Lancarka...
Daerah
Aksi Cepat Pelni untuk NTT!...
Olahraga
Gerard Pique Masuk Arena Ca...

Gempa M7,7 NTT, 68 Orang Meninggal dan 213 Luka

55 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Gempa M7,7 NTT, 68 Orang Me...
Daerah
TNBTS Hitung Kerugian Karhu...
Rona
Taylor Sheridan Tinggalkan ...
Insentif Motor Listrik Rp5 Juta Masih Tertahan, Tunggu Aturan Menkeu

Insentif Motor Listrik Rp5 Juta Masih Tertahan, Tunggu Aturan Menkeu

17 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.