Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Suntik Teknologi ke Sumur Tua, Pemerintah Genjot Produksi Migas

📅 Kamis, 12 Feb 2026, 22:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Suntik Teknologi ke Sumur Tua, Pemerintah Genjot Produksi Migas Doc: Antara
Ket. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berbicara dalam Kuliah Umum Media Indonesia di Jakarta, Kamis (12/2).

Jakarta - Pemerintah mengandalkan pemanfaatan teknologi lanjutan dalam rangka meningkatkan produksi atau lifting minyak dan gas (migas) nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (12/2), mengatakan pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan lifting migas, meski capaian untuk minyak bumi pada 2025 terealisasi 605,3 ribu barel per hari atau melebihi target APBN.

Menurut dia, senjata utama untuk optimalisasi peningkatan lifting migas, salah satunya adalah dengan penerapan teknologi lanjutan di sumur migas eksisting, seperti enhanced oil recovery (EOR), fracking, atau horizontal drilling.

"Untuk meningkatkan lifting, mau tidak mau, harus kita suntik dengan teknologi. Sumur-sumur yang sudah lama ini kita suntik pakai teknologi, nggak ada cara lain. EOR salah satunya," ujar Bahlil saat Kuliah Umum Media Indonesia di Jakarta, Kamis.

Namun demikian, Bahlil tidak memungkiri bahwa penerapan teknologi lanjutan kerap kali terkendala dari aspek keekonomian.

Maka dari itu, pemerintah memberikan fleksibilitas skema kontrak kerja sama bagi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang akan melaksanakan kegiatan eksplorasi dan operasi produksi.

Menurut dia, KKKS diperbolehkan untuk memilih skema kontrak kerja sama berbentuk gross split atau cost recovery.

"Kebijakan ini adalah jalan tengah untuk menjaga keberlanjutan produksi migas nasional, sekaligus mengoptimalkan upaya menuju ketahanan energi," jelasnya.

Bahlil juga mengatakan kegiatan yang dilakukan negara tidak boleh berorientasi pada keuntungan, harus melayani kebutuhan masyarakat.

"Negara itu tidak hanya bicara tentang berapa profitnya, negara itu nggak boleh bicara hanya profit oriented. Tapi, negara juga harus bicara tentang pelayanan, ketersediaan, dan ketahanan. Kita ini melayani rakyat, kalau ada profit itu multiplier effect," tegasnya.

Bahlil melanjutkan langkah kedua yang dilakukan pemerintah adalah mendorong pengelolaan sumur-sumur tua (idle well).

Saat ini, terdapat 6.305 sumur idle yang memiliki potensi hidrokarbon, dengan 787 sumur dapat direaktivasi dan 3.972 sumur berpotensi untuk dikerjasamakan.

"Upaya ini penting untuk mendorong penambahan produksi minyak Indonesia," ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga mempercepat realisasi proyek-proyek yang telah menyelesaikan rencana pengembangan atau plan of development (POD), namun belum masuk tahap konstruksi dan produksi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.