Banyumas Bidik Pusat Ekspor Gula Kelapa Dunia dari Kelapa Genjah
📅 Rabu, 04 Feb 2026, 16:15 WIB | Oleh: SujarDari sisi rasa dan kualitas, tidak ada perbedaan antara nira kelapa dalam dengan kelapa genjah. Hal yang berubah hanya volumenya, dan itu tertutup oleh jumlah pohon yang bisa dideres.
Transformasi tersebut juga dirancang sebagai bagian dari perwujudan 13 Program Unggulan (Trilas) yang diusung Bupati Sadewo Tri Lastiono bersama Wakil Bupati Dwi Asih Lintarti. Secara khusus, pengembangan gula kelapa berbasis kelapa genjah sejalan dengan Trilas ke-4 tentang pengembangan sentra pengusaha dan petani muda di setiap kecamatan, Trilas ke-6 mengenai percepatan pengentasan kemiskinan, serta Trilas ke-9 mewujudkan swasembada pangan lokal menuju kesejahteraan petani.
Melalui pendekatan tersebut, Pemkab Banyumas berupaya mendorong sektor pertanian tradisional agar lebih aman, produktif, dan bernilai tambah, sekaligus membuka ruang regenerasi petani dan memperkuat ekonomi perdesaan.
Guna menopang program itu, Banyumas telah menyiapkan lahan seluas 625 hektare yang telah terdata. Dengan kebutuhan sekitar 125 bibit per hektare, diperlukan ratusan ribu bibit kelapa genjah guna mendukung peremajaan secara bertahap.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sadewo mengakui keterbatasan fiskal daerah menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, ia memilih strategi kolaborasi lintas sektor, mulai dari kementerian, hingga pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Pemkab Banyumas menghindari penggunaan APBD, karena memang terbatas. Kuncinya data yang kuat, argumentasi yang jelas, dan pendekatan yang sungguh-sungguh.
Pendekatan tersebut mulai membuahkan hasil, salah satunya melalui dukungan CSR dari mitra internasional yang membantu penyediaan puluhan ribu bibit kelapa genjah secara bertahap.
Di sisi industri, Managing Director PT Integral Mulia Cipta (IMC) Mario Ngensowidjaja menilai Banyumas sebagai wilayah strategis nasional dalam rantai pasok gula kelapa. Perusahaannya telah beroperasi di Banyumas sejak 2012 dan menyaksikan langsung tantangan regenerasi petani.
Waktu perusahaan itu melakukan sensus beberapa tahun silam, usia rata-rata petani berkisar 45-55 tahun. Akan tetapi, saat sekarang banyak yang sudah berusia di atas 60 tahun.
Karena itu, 10 tahun ke depan, siapa yang mau dan mampu memanjat pohon setinggi itu?
Generasi muda enggan melanjutkan profesi penderes karena risiko tinggi dan memerlukan keterampilan khusus yang tidak mudah diwariskan.
Dalam hal ini, keterampilan memanjat itu tidak bisa digantikan teknologi, sehingga jika tidak ada yang memanjat pohon kelapa untuk menderes nira berarti tidak ada gula.
Oleh karena itu, IMC mendukung penuh peralihan ke kelapa genjah yang lebih aman dan membuka peluang modernisasi budi daya serta standarisasi produksi. Selama ini, gula kelapa diproduksi secara tersebar di ribuan rumah tangga, dengan kualitas yang beragam.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!