Banyumas Bidik Pusat Ekspor Gula Kelapa Dunia dari Kelapa Genjah
📅 Rabu, 04 Feb 2026, 16:15 WIB | Oleh: Sujar
Doc: ANTARA/HO-Kopipo
Purwokerto -- Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menapaki jalur strategis untuk mengukuhkan diri sebagai pusat ekspor gula kelapa kristal (gula semut) dunia.
Daerah yang selama puluhan tahun dikenal sebagai lumbung gula kelapa nasional itu, kini bersiap melakukan transformasi besar dari hulu ke hilir, dengan bertumpu pada peremajaan pohon kelapa dalam (kelapa konvensional) dengan kelapa genjah, penguatan industri, serta peningkatan kesejahteraan dan keselamatan penderes.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan gagasan tersebut bukanlah rencana instan. Cita-cita menjadikan Banyumas sebagai episentrum gula kelapa dunia telah terpatri sejak dirinya menjabat sebagai Wakil Bupati Banyumas periode 2018-2023, dan mulai dieksekusi secara lebih terstruktur, setelah ia mengemban amanah sebagai kepala daerah.
“Kebutuhan dunia terhadap gula kelapa kristal atau gula semut itu sangat besar. Saat ini sekitar 90 persen pasokan dunia berasal dari Indonesia, dan 80 persennya disumbang Banyumas Raya (Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara). Ini peluang yang luar biasa dan tidak boleh disia-siakan,” kata Sadewo.
Kekuatan Banyumas tidak hanya terletak pada volume produksi, juga pada jejaring penderes, pelaku usaha, dan eksportir yang telah tumbuh lama.
Sebaiknya Anda baca juga:
Modal sosial itu menjadi fondasi untuk mendorong Banyumas naik kelas, tidak lagi sekadar daerah penghasil, juga pusat ekspor dan rujukan industri gula kelapa berkelanjutan.
Dari potensi gula kelapa kristal itu, nilai ekonominya besar, tonasenya besar, dan multiplier effect-nya sangat terasa bagi masyarakat perdesaan.
Hanya saja, di balik potensi tersebut, Sadewo tidak menutup mata terhadap persoalan mendasar yang selama ini membayangi industri gula kelapa, yakni tingginya risiko kerja penderes.
Mayoritas penderes masih bergantung pada kelapa dengan tinggi pohon mencapai 15 meter lebih, yang harus dipanjat dua kali sehari.
Hampir setiap bulan ada penderes yang jatuh. Risikonya mulai dari patah tulang, lumpuh, sampai meninggal dunia, sehingga hal itu tidak bisa dibiarkan terus.
Dari keprihatinan itulah, Pemerintah Kabupaten Banyumas mendorong peralihan bertahap dari kelapa dalam ke kelapa genjah. Varietas ini memiliki tinggi batang hanya sekitar dua hingga tiga meter, sehingga jauh lebih aman bagi penderes dan memungkinkan peningkatan produktivitas.
Hasil analisis yang telah dilakukan oleh pemkab, dengan ritme kerja yang sama, penderes kelapa genjah mampu menyadap nira dari jumlah pohon yang jauh lebih banyak.
Kalau kelapa dalam, seorang penderes maksimal mengerjakan 25 pohon per hari, maka dengan kelapa genjah bisa sampai 100 pohon. Secara sederhana, produktivitasnya bisa empat kali lipat.
Meskipun volume nira per pohon kelapa genjah lebih kecil, hasil akumulatifnya tetap menguntungkan. Bahkan, jika hanya mencapai 75 persen dari volume nira kelapa dalam, pendapatan penderes masih berpotensi meningkat, hingga tiga kali lipat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!