Bukan Sekadar Hujan, Badan Geologi Ungkap “Bom Waktu” di Balik Longsor Cisarua
📅 Senin, 26 Jan 2026, 17:02 WIB | Oleh: Alfred
Doc: ANTARA/HO Pemprov Jabar
BANDUNG - Badan Geologi mengungkapkan longsor besar yang menimbun 30 hektare lahan di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, dipicu kombinasi struktur geologi purba yang rapuh dan kejenuhan air tanah akibat hujan intens.
Plt Kepala Badan Geologi Lana Saria di Bandung, Senin, menjelaskan, berdasarkan analisis mendalam, menunjukkan adanya kombinasi fatal antara struktur geologi purba yang rapuh dan kejenuhan air tanah yang memicu kegagalan lereng di kawasan cukup padat penduduk tersebut.
"Karakteristik tanah di lokasi kejadian, sebuah bom waktu geologis yang akhirnya meledak," kata Lana.
Berdasarkan analisis data sekunder dan deskwork terkini, Lana menjelaskan lokasi bencana yang berada di koordinat LS 6,796861° dan BT 107,539694° ini berdiri di atas satuan batuan Formasi Endapan Gunungapi Tua Tidak Terpisahkan (QVu).
"Satuan ini umumnya terdiri atas breksi vulkanik, tuf, lava andesit-basalt, serta material piroklastik yang telah mengalami pelapukan kuat," ujar dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pelapukan lanjut pada batuan vulkanik ini, menurunkan kuat geser tanah secara drastis. Situasi diperparah oleh keberadaan struktur geologi berupa sesar dan rekahan berarah barat laut-tenggara.
Celah-celah mikroskopis ini menjadi jalan tol bagi air hujan untuk menyusup jauh ke dalam tanah, menciptakan bidang-bidang lemah yang siap menggelincirkan jutaan ton material tanah kapan saja.
Faktor pemicu utama yang tak terelakkan adalah curah hujan tinggi. Infiltrasi air hujan yang intensif ke dalam lapisan tanah pelapukan menyebabkan peningkatan tekanan air pori (pore water pressure) yang signifikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika tekanan air ini meningkat, daya ikat (kohesi) tanah melemah. Pada saat gaya pendorong lereng melebihi gaya penahan, terjadi pergerakan massa tanah dan batuan mengikuti bidang gelincir yang berkembang pada zona lemah.
Hal ini, menjelaskan mekanisme teknis mengapa longsoran mencakup luasan yang begitu besar.
Selain faktor alam, aktivitas manusia turut mempercepat proses ini. Tata guna lahan yang didominasi permukiman dan pertanian, ditambah pemotongan lereng untuk jalan tanpa sistem drainase memadai, telah mengganggu kestabilan lereng alami yang kemiringannya mencapai lebih dari 40 derajat di beberapa titik.
Mengingat lokasi kejadian masuk dalam Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah dalam Peta ZKGT, tim teknis mengeluarkan rekomendasi krusial yang wajib dipatuhi demi mencegah bertambahnya korban jiwa.
Rekomendasi teknis menegaskan agar masyarakat di sekitar lokasi terdampak segera mengungsi ke tempat yang lebih aman. Potensi longsoran susulan masih sangat tinggi, terutama karena struktur tanah yang sudah terganggu.
"Penanganan longsoran dan pencarian korban hilang agar memperhatikan cuaca, agar tidak dilakukan pada saat dan setelah hujan deras," ucap Lana.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!