Paus Leo XIV Kecam Militerisme untuk Capai Tujuan Diplomatik
📅 Minggu, 11 Jan 2026, 15:05 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: VATICAN MEDIA
VATIKAN - Paus Leo XIV mengecam penggunaan kekuatan militer untuk mencapai tujuan diplomatik negara-negara. Ia menyebut lemahnya organisasi internasional menghadapi konflik global sebagai suatu hal yang sangat mengkhawatirkan.
Paus Leo XIV menilai diplomasi dialog kini digantikan pendekatan berbasis kekuatan dan intimidasi. “Perang kembali menjadi tren dan semangat untuk berperang semakin menyebar,” kata paus asal Amerika tersebut.
Pernyataan itu disampaikan dalam pidato “State of World” kepada diplomat Takhta Suci, Jumat (9/1). Pidato berlangsung di Hall of Benediction, Apostolic Palace, Vatikan.
Takhta Suci saat ini memiliki hubungan diplomatik dengan 185 negara dan organisasi internasional. Pidato tersebut menjadi pidato awal tahun pertama Paus Leo XIV sejak terpilih.
Pidato itu menggunakan bahasa Inggris dan menekankan diplomasi harapan di tengah krisis global. Paus menyoroti konflik bersenjata, ketidakadilan, terorisme, dan pembatasan kebebasan beragama.
Sebaiknya Anda baca juga:
Paus Leo XIV menyerukan penghentian konflik di Ukraina, Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Ia juga secara khusus menyebut kawasan Karibia dan Venezuela.
Paus menyatakan ketegangan di Laut Karibia dan pesisir Pasifik Amerika sangat memprihatinkan. “Saya mengulangi permohonan mendesak agar solusi politik damai terus diupayakan,” tegas Paus.
Ia pun menekankan solusi harus mengutamakan kepentingan bersama, bukan kepentingan partisan.bPernyataan tersebut disampaikan terkait situasi politik dan keamanan Venezuela.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Hal ini khususnya berkaitan dengan Venezuela, mengingat perkembangan terkini,” ujar Paus. Ia lalu menyerukan penghormatan kehendak rakyat serta perlindungan hak asasi dan hak sipil.
Paus Leo XIV juga menyinggung situasi Asia timur dalam pidatonya. “Kita tidak boleh mengabaikan tanda-tanda meningkatnya ketegangan di Asia timur,” kata dia.
Ia berharap semua pihak mengedepankan pendekatan damai dan dialog dalam menyelesaikan sengketa. Ketegangan dipicu sengketa teritorial, program nuklir Korea Utara, dan persaingan strategis global.
Secara khusus, Paus Leo XIV menyoroti krisis kemanusiaan di Myanmar. “Pikiran saya tertuju pada krisis kemanusiaan dan keamanan yang parah di Myanmar,” kata dia.
Paus kembali menyerukan keberanian memilih jalan dialog dan perdamaian inklusif. “Perdamaian sulit namun realistis, membutuhkan kerendahan hati dan keberanian,” ujar dia.
Takhta Suci menilai situasi Ukraina semakin tragis dengan pertumpahan darah berkelanjutan. Warga sipil terus menjadi korban secara materiil dan non-materiil.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!