Bus Wisata Disingkirkan dari Sumbu Filosofi, Jogja Ubah Pola Kunjungan
📅 Jumat, 09 Jan 2026, 23:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah.
YOGYAKARTA – Langkah Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan skema pengalihan bus pariwisata dari Kawasan Sumbu Filosofi mencerminkan upaya menyeimbangkan kepentingan pelestarian kawasan warisan budaya dengan kebutuhan mobilitas pariwisata.
Penataan parkir dan pengembangan Terminal Giwangan diposisikan sebagai instrumen untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dan tekanan kendaraan berat di jantung kota, yang berisiko mengganggu nilai historis dan kenyamanan kawasan.
Kebijakan ini sekaligus menggeser pola pergerakan wisata menuju sistem transportasi yang lebih terkelola, meski keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur pendukung, konektivitas angkutan lanjutan, serta kepatuhan pelaku wisata dalam mengikuti skema baru tersebut.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta Agus Tri Haryono mengatakan kebijakan tersebut untuk mengurangi tekanan lalu lintas kendaraan besar di kawasan warisan budaya dunia itu.
"Salah satu tekanan terbesar datang dari pergerakan lalu lintas, khususnya bus pariwisata. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kelancaran mobilitas, tapi juga berpengaruh terhadap kualitas kawasan dan keberlanjutan aktivitas ekonomi pariwisata," ujar Agus di Yogyakarta, Jumat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seperti diketahui, Sumbu Filosofi Yogyakarta membentang dari Panggung Krapyak di sisi selatan, melintasi Keraton Yogyakarta, hingga Tugu Yogyakarta di sisi utara.
Dalam konteks pelestarian kawasan tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta menilai pengendalian pergerakan kendaraan, khususnya bus pariwisata, menjadi salah satu tantangan utama di Kawasan Sumbu Filosofi yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia.
Menurut dia, kawasan Yogyakarta bagian selatan dengan pusat di Terminal Giwangan memiliki peran strategis sebagai simpul transportasi dan pintu masuk kota.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kawasan itu tidak hanya difungsikan sebagai terminal, tetapi juga diarahkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi wilayah selatan Kota Yogyakarta.
Agus menyampaikan Terminal Giwangan telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Kota dan menjadi salah satu lokus pembangunan prioritas dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah tahun 2025–2029.
Penguatan peran terminal itu diharapkan mampu mendukung pengalihan bus pariwisata tanpa mengganggu aktivitas di kawasan inti Sumbu Filosofi.
Pengembangan kawasan Terminal Giwangan semakin terbuka setelah Pemerintah Kota Yogyakarta memperoleh hak pengelolaan lahan di sisi selatan terminal.
Menurut Agus, hal tersebut memberikan peluang optimalisasi aset daerah secara terintegrasi, baik untuk fungsi transportasi, ekonomi, maupun pelayanan publik.
"Pengelolaan Kawasan Terminal Giwangan pada dasarnya merupakan bagian integral dari perjalanan strategis dan prioritas pembangunan Kota Yogyakarta, khususnya untuk mendorong pemerataan pembangunan wilayah selatan dan penguatan struktur ekonomi kota," ujar dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!