Bapanas: Indonesia Tidak Perlu Lagi Impor karena Sudah Capai Swasembada Beras
📅 Senin, 05 Jan 2026, 18:05 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Freepik
JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada beras pada 2025. Capaian ini ditopang oleh stok beras awal 2026 yang mencapai 12,529 juta ton.
Karena itu, Bapanas menyatakan Indonesia tidak lagi memerlukan impor beras konsumsi karena produksi nasional mengalami surplus signifikan.
Demikian disampaikan Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, pada Senin (5/1).
"Produksi beras kita lebih dari 34 juta ton pada 2025, sedangkan kebutuhannya sekitar 31 juta ton. Menurut dia, ini berarti Indonesia memiliki surplus 3 juta ton dan itu sudah menandakan sudah mencapai swasembada.
Astawa mengatakan stok awal tersebut sudah termasuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog sebesar 3,248 juta ton. Angka cadangan ini disebutnya sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sedangkan sisa stok beras saat ini tersebar di masyarakat, pedagang, penggilingan, distributor, dan sektor konsumsi lainnya. Astawa memastikan stok tersebut cukup untuk menjaga pasokan hingga Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah.
"Produksi dimulai pada Januari dan Februari, kemudian Maret sudah mulai panen dan April panen raya," ujar dia.
Menurut Astawa, hal ini juga menandakan ketersediaan beras pada 2026 akan semakin kuat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Khudori, mengingatkan pentingnya validasi data stok beras nasional. Menurut dia, sejak 2023 Bapanas tidak lagi melakukan survei stok beras di masyarakat pada setiap akhir tahun.
"Angka stok 12,5 juta ton itu sangat besar, setara dengan sekitar empat sampai lima bulan konsumsi nasional," ujar dia.
Menurut dia, survei ini penting antara lain untuk memastikan berapa banyak stok beras yang ada di masyarakat.
Khudori menekankan tidak adanya survei stok beras di masyarakat berpotensi menimbulkan bias perhitungan. Dia mengingatkan pengalaman masa lalu yang menunjukkan koreksi besar akibat data produksi dan stok tidak akurat.
Khudori menilai metode pengumpulan data sebelumnya kerap menyebabkan angka beras menjadi kurang tepat. Karena itu, dia menegaskan survei tetap penting sebagai alat pengecekan silang data. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!