Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Industri Indonesia Hadapi Tekanan Emisi, SUN Energy Dorong Transisi Energi Bersih

📅 Kamis, 18 Des 2025, 18:45 WIB | Oleh:
Industri Indonesia Hadapi Tekanan Emisi, SUN Energy Dorong Transisi Energi Bersih Doc: Koran Jakarta - Haryo Brono
Ket. Media Gathering bertajuk “Inisiatif Dekarbonisasi Wujudkan Industri Hijau” di Jakarta pada hari Kamis (18/12). Dekarbonisasi industri menjadi kunci daya saing global. SUN Energy memperkuat peran solusi terintegrasi berbasis energi terbarukan untuk mendukung Standar Industri Hijau dan target Net Zero Emissions 2060.

JAKARTA - Dekarbonisasi industri kian menjadi kebutuhan mendesak bagi sektor manufaktur nasional di tengah meningkatnya tekanan regulasi, tuntutan pasar global, serta transformasi rantai pasok internasional. Industri Indonesia tidak lagi hanya dituntut tumbuh, tetapi juga beroperasi secara efisien, rendah emisi, danberdayasaing global.

Menjawab tantangan tersebut, SUN Energy memperkuat perannya dalam menghadirkan solusi terintegrasi untuk mendorong percepatan penerapan Standar Industri Hijau (SIH) dan memperkuat daya saing industri nasional. Urgensi ini tercermin dari meningkatnya konsumsi energi sektor industri.


Data terbaru menunjukkan konsumsi listrik industri tumbuh 2,66 persen secara tahunan, dengan total volume mencapai 1.165 Gigawatt hour (GWh). Sektor industri saat ini menyumbang lebih dari 40 persen konsumsi listrik nasional, menjadikannya salah satu penentu utama keberhasilan agenda transisi energi dan penurunan emisi nasional.

Di sisi lain, sektor industri juga berkontribusisignifikanterhadapemisigasrumahkacaIndonesia.Berdasarkan berbagai kajian, sektor energi dan industri menyumbang lebih dari 50 persen total emisi nasional, sehingga transformasi industri menjadi kunci pencapaian target Net Zero Emissions 2060.

 Dalam konteks tersebut, percepatan adopsi energi bersih dan pemenuhan SIH menjadi faktor penting. Hal ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan sektor industri agar dapat berdaya saing di tingkat global.

StandarIndustriHijausebagaiInstrumenDayaSaing

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perindustrian terus mendorong penerapan Standar Industri Hijau (SIH) sebagai instrumen utama transformasi industri. SIH tidak hanya mengatur aspek efisiensi energi dan pengurangan emisi, tetapi juga mencakup pengelolaan sumber daya, produktivitas, serta keberlanjutan rantai pasok industri.

Hingga saat ini, lebih dari 150 perusahaan di Indonesia telah memperoleh sertifikasi SIH. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkatseiringdenganpenguatankebijakannasional, termasuk keterkaitan SIH dengan berbagai instrumen lain seperti Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER), target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), serta komitmen Indonesia dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC).

Tekanan global juga semakin nyata. Industri Indonesia menghadapi penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa, tuntutan transparansi jejak karbon produk, persyaratan ESG dari investor global, hingga persiapan implementasi Emission Trading System (ETS) nasional. Dalam konteks ini, pemenuhan SIH menjadi prasyarat strategis, bukan sekadar kepatuhan regulasi.

Sri Gadis Pari Bekti, Ketua Tim Dekarbonisasi Industri, Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian, menegaskan pentingnya transformasi ini. Menurut dia dekarbonisasi sektor industri merupakan prasyarat utama untuk mencapai target emisi nol bersih pada 2050, mengingat besarnya kontribusi emisi dari aktivitas industri.

Melalui pembentukan ekosistem industri hijau, yang didukung oleh ketersediaan energi dan teknologi rendah karbon, mekanisme pendanaan yang inklusif, serta kebijakandanregulasi yang terintegrasi, pemerintah mendorong transformasi industri agar lebih efisien, berdaya saing, dan selaras dengan tuntutan pasar global menuju ekonomi rendah karbon,” paparnya dalam acara Media Gathering bertajuk “Inisiatif Dekarbonisasi Wujudkan Industri Hijau” di Jakarta pada hari Kamis (18/12).

Sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam mendorong transformasi industri hijau, adopsi energi terbarukan di sektor industri terus menunjukkan tren pertumbuhan yangpositif. Berdasarkan data Kementerian Energi danSumberDayaMineral(ESDM),kapasitas terpasang PLTS Atap secara nasional telah mencapai 495 MWper Juni 2025.

EnergiTerbarukansebagaiFondasiDekarbonisasiIndustri

Dalam implementasi SIH, pemanfaatan energi terbarukan,khususnyaPembangkitListrik Tenaga Surya (PLTS), menjadi salah satu langkah palingkonkretdanterukur.Energisurya dinilai strategis karena dapat langsung menurunkan emisi, meningkatkan efisiensi biaya energi, serta meningkatkan ketahanan pasokan listrik industri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Daerah
BBPOM Makassar dan Unhas Pe...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wali Kota Bandung Ancam Sanksi ASN yang Terlibat Judi Online Berkedok Bola

Wali Kota Bandung Ancam Sanksi ASN yang Terlibat Judi Online Berkedok Bola

13 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.