Gawat! KKI: 57 Persen Galon Guna Ulang di Pasaran Sudah Kedaluwarsa Pemakaian, Kesehatan Konsumen Dipertaruhkan
📅 Rabu, 17 Des 2025, 16:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ HO-Asdamindo
JAKARTA – Usia galon air minum guna ulang menjadi faktor krusial dalam menjamin keamanan pangan dan kesehatan konsumen.
Seiring waktu, material galon—terutama plastik polikarbonat—dapat mengalami degradasi akibat paparan panas, sinar matahari, serta proses pencucian berulang, yang berpotensi memengaruhi kekuatan struktur dan keamanan kimianya.
Tanpa pengendalian usia pakai yang jelas, risiko kontaminasi dan penurunan mutu air minum dapat meningkat.
Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menyatakan sekitar 57 persen galon air minum guna ulang yang beredar di pasaran berusia lebih dari dua tahun melewati batas pemakaian maksimal hanya satu tahun sebagai upaya untuk mencegah pelepasan zat kimia berbahaya dari plastik polikarbonat.
Ketua KKI David Tobing menyatakan pihaknya telah merilis hasil investigasi lapangan terbaru bertajuk "Investigasi Ganula Air Minum di Jabodetabek" yang dilakukan pada 60 toko kelontong di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Investigasi KKI, ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (17/12), menemukan galon yang sudah jauh melewati batas usia pemakaian wajar. Galon dengan kode produksi tahun 2012 ditemukan beredar di Bogor, dan galon produksi 2016 masih dijual di Tangerang.
"Secara keseluruhan, 57 persen galon yang beredar berusia lebih dari dua tahun, padahal pakar menyarankan pemakaian maksimal hanya satu tahun untuk mencegah pelepasan zat kimia berbahaya dari plastik polikarbonat," katanya.
David menegaskan galon yang berumur 13 tahun bukan lagi "red flag" tetapi sudah merupakan sirene bahaya. Galon-galon tersebut sudah termasuk kategori Galon Lanjut Usia atau Ganula.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Produsen wajib menariknya dari pasar. Ini soal keselamatan manusia, bukan sekadar soal kemasan," ujarnya.
Di lapangan, tim KKI juga menemukan kondisi galon yang jauh dari layak, yakni sebanyak 80 persen galon, atau 8 dari 10 galon yang dicek, tampak buram dan kusam, seolah telah melewati siklus pemakaian tanpa kontrol kualitas.
Lebih dari itu, 55 persen galon ditemukan dalam kondisi lusuh dan berdebu, menunjukkan bahwa aspek kebersihan bukan lagi prioritas dalam distribusi.
"Galon dalam kondisi kurang layak seperti kusam, lusuh, dan buram masih dijual bebas itu bukan kelalaian kecil, ini ancaman langsung pada kesehatan publik," ujarnya.
Selain itu, tambahnya, Investigasi KKI juga mendapati tidak adanya edukasi dari produsen kepada pedagang. Sebanyak 95 persen pedagang mengaku tidak pernah mendapat penjelasan tentang cara membaca kode produksi atau menentukan usia galon, dan 91,7 persen tidak pernah diberi informasi mengenai keamanan bahan kemasan.
Dia menegaskan masyarakat bisa menolak jika menerima galon air minum yang buram, kusam, atau usianya lebih dari dua tahun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!