Perangkat Depok Jalan-jalan ke Salatiga Belajar Toleransi
📅 Selasa, 09 Des 2025, 01:32 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
DEPOK – Kota Salatiga, Jawa Tengah, dikenal sebagai salah satu wilayah paling toleran di Indonesia versi Setara Institute tahun 2024. Maka dari itu, perangkat Kota Depok jalan-jalan, katanya, mau belajar toleransi sebagai bagian upaya meningkatkan toleransi dan kerukunan antarwarga Depok.
“Kami bersama Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat atau FKDM kunjungan sebagai bagian dari strategi Pemkot Depok untuk memperkuat sistem kewaspadaan dini dan memperbaiki ekosistem sosial masyarakat melalui pembelajaran langsung dari daerah yang telah berhasil," kata Kepala Badan Kesbangpol Kota Depok, Lienda Ratnanurdianny, Senin.
Lienda menyebut, peningkatan Depok dari peringkat 94 pada tahun 2023 menjadi peringkat 76 pada tahun 2024. Ini menunjukkan bahwa kerja-kerja toleransi sudah berada di jalur yang tepat. “Kita ingin naik kelas. Depok sudah menunjukkan perbaikan signifikan tahun ini. Dengan mempelajari keberhasilan Salatiga, kami ingin memperkuat langkah agar Depok semakin inklusif dan harmonis," ujarnya.
Menurutnya, studi banding tersebut bertujuan untuk menggali program, pola kerja, dan sistem koordinasi antara Kesbangpol dan FKDM Salatiga yang mampu menjaga stabilitas sosial. “Kami ingin mengetahui cara pembinaan, fasilitas, dan mekanisme kolaborasi yang diterapkan, sehingga menjadi kota toleran terbaik. Ini penting untuk memperkuat peran FKDM Depok di lapangan,” jelasnya.
Dengan struktur FKDM Depok yang terus diperkuat dan komitmen pemerintah dalam menjaga kondusivitas wilayah, optimistis dapat terus naik peringkat dalam indeks toleransi nasional. Lienda menegaskan bahwa kunjungan ini bukan hanya studi banding, tetapi langkah nyata menuju Depok yang lebih rukun dan inklusif.
“Kami ingin Depok menjadi kota yang aman, terbuka, dan saling menghormati. Pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas sosial masyarakat. Upaya ini adalah bagian dari perjalanan besar itu,” tegasnya.
Kenaikan signifikan Depok dalam Indeks Kota Toleran 2024 disebut menjadi bukti bahwa pemerintah daerah memiliki arah yang jelas dalam memperkuat kohesi sosial.
Dengan berbagai terobosan dan kolaborasi, Pemkot Depok berharap capaian tersebut terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Kepala Badan Kesbangpol Kota Salatiga, Suryono Adi Setiawan, menyampaikan bahwa toleransi di kotanya dibangun melalui kesadaran masyarakat, bukan sekadar penilaian lembaga.
“Toleransi bukan paksaan. Ini budaya yang tumbuh dari kesadaran hidup berdampingan,” ujarnya. Dia menjelaskan bahwa seluruh laporan dari masyarakat, mulai tingkat kecamatan hingga RT, dianalisis secara berjenjang oleh Badan Kesbangpol. “Hasil analisis kemudian menjadi dasar pembuatan kebijakan daerah,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua FKDM Salatiga, Darmaji, menambahkan bahwa keberhasilannya tak lepas dari sistem pemantauan berlapis yang melibatkan FKDM tingkat kota, kecamatan, dan kelurahan. “Setiap kegiatan masyarakat baik pengajian, PKK, maupun sekolah Minggu terpantau dengan baik. FKDM bertugas mengamati dan melaporkan, bukan mengambil tindakan, sehingga suasana tetap kondusif,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (7)
09 Dec 2025, 18:54 WIB.
Depok toleransi omong kosong hanya menutup kekurangan dan kelakuan pejabatnya padahal sangat rasis dengan slogan Kood
Balas09 Dec 2025, 19:12 WIB.
Muslim lah yang harus nya belajar toleransi beragama, mulai dari india sampai eropa, berita2 kekerasan berbau agama tak jauh dari perilaku muslim sendiri. Di jerman, pohon natal ditendang, dirusak oleh pengungsi timur tengah, mereka melarang orang bule setempat bawa anjing ke taman, melarang bunyi lonceng gereja, padahal ditampung baik2, diberi makan, rumah, sekolah hasilnya malah dimusuhi, itu kah toleransi beragama?
Balas10 Dec 2025, 01:50 WIB.
Fitnahmu adalah kekejianmu. Yg sungguh sangat. Membuatmu semoga sadar.
Balas10 Dec 2025, 09:10 WIB.
Kenapa harus Islam yang belajar Toleransi? Kenapa? Apakah kurang jelas artikel ini bahwa Salatiga adalah kota paling toleran NOMOR 1 di Indonesia? Salatiga itu mayoritas, 80% muslim. Kalau muslim tidak bagus dalam toleransi sudah kalang kabut nonmuslim yg minoritas. Di sini di Salatiga kami umat Islam sangat toleransi dg umat lain. Bahkan tepat di sebelah masjid Agung kami, kadang dilaksanakan acara keagamaan umat lain. Kami parkir di tempat yg sama. Makan di warung makan yg sama, saling berjumpa teman & kerabat setelah kegiatan agama masing2. Akalnya diasah lagi biar tidak tumpul dan termakan berita profokasi media barat. Bahkan situs penting umat kristen, makam Tuhannya umat kristen juru kuncinya umat Islam Palestina. Kalau umat Islam tidak toleransi sudah diubah jadi restoran itu makam.
Balas11 Dec 2025, 07:02 WIB.
Belajar toleransi k India? hahahaha.....Cape amat hidupmu
Balas10 Dec 2025, 04:53 WIB.
Hanya buat ngabisin anggaran aja biar kelihatan terserap judulnya udah jalan² lagian toleransi itu di setiap agama ada tinggal di praktekan bilangnya belajar dipraktekan didaerahnya ngga ????begitu terus perangkat kita bekerja
Balas10 Dec 2025, 07:54 WIB.
Bpk2 dan Ibu2 yg jalan ke salatiga, tolong benar2 dipelajari ttg cara toleransi di Salatiga, kota ini saling menghormati dan menghargai budaya, agama, suku dan lainnya... Kota ini jadi nomer 1 loh sebagai Kota Toleran se-Indonesia....
BalasDari saya warga Depok yg sudah 2 tahun hidup di Salatiga..(saksi hidup)
Semangat Bpk2 dan Ibu2 dari Depok...
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!