Mantan Komandan Angkatan Darat Russia: Perang di Ukraina Dibangun di Atas Kebohongan
📅 Selasa, 09 Des 2025, 11:38 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SSalah satu kegagalan yang paling tidak dapat dimaafkan, menurutnya, adalah laporan yang diberikan kepada pimpinan Russia yang menyatakan bahwa 70 persen penduduk Ukraina akan mendukung pemerintah pro-Rusia yang dibentuk oleh Moskow.
"Ternyata justru sebaliknya," jelasnya. "Orang Ukraina 30 persen mendukung kami dan 70 persen menentang kami," ujarnya. "Selama beberapa minggu pertama [invasi], kami diajari pelajaran yang kejam."
Chirkin juga menggambarkan pasukan Russia lumpuh pada tahap awal invasi dan menjadi korban dari apa yang dikenal sebagai "sindrom Tbilisi". Istilah ini merujuk pada kinerja militer Rusia yang kurang optimal dalam invasi Georgia tahun 2008.
Istilah ini sekarang umum digunakan sebagai singkatan untuk sistem komando yang disfungsional di mana pasukan takut membuat keputusan taktis tanpa perintah atasan mereka. Dalam konflik yang dijalankan dengan cara ini, ketika suatu keputusan telah disetujui oleh atasan, biasanya sudah terlambat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Diagnosis ini juga didukung oleh penilaian Barat dan Ukraina atas kegagalan awal invasi tersebut. Militer Russia tidak hanya sepenuhnya salah memahami apa yang dibutuhkan untuk merebut ibu kota Ukraina, Kyiv, tetapi juga mengirimkan pasukan yang kurang lengkap dengan peralatan yang kurang terawat dan hampir pasti akan gagal.
Hasilnya adalah kebingungan selama berminggu-minggu di antara pasukan Moskow, terhambat oleh sistem logistik yang tidak ada dan kurangnya superioritas udara, diperparah oleh ketidakmampuan total militer Rusia untuk menekan pertahanan udara Ukraina.
Serangan yang terhenti selama berminggu-minggu dan barisan kendaraan yang terjebak di jalan dihantam serangan terus-menerus dari pasukan pertahanan teritorial Ukraina mengakibatkan militer Rusia terpaksa mundur dari serangan. Kegagalan invasi kini telah tuntas, dan Moskow tidak lagi mengancam ibu kota Ukraina sejak saat itu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!