Luka Tak Berdarah: Psikolog Serukan Dukungan Sosial sebagai Kunci Pemulihan Korban Bencana
📅 Sabtu, 06 Des 2025, 20:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Yudi Manar
JAKARTA – Di balik puing-puing bangunan yang runtuh dan jalan yang tergenang lumpur, ada reruntuhan lain yang kerap tak terlihat: trauma para korban bencana alam.
Saat bantuan logistik, tenda darurat, dan posko kesehatan didirikan, beban psikologis yang mereka bawa sering tenggelam dalam hiruk-pikuk pemulihan fisik. Padahal, luka yang tidak tampak justru berpotensi membekas jauh lebih lama.
Pemulihan trauma menjadi kebutuhan mendesak karena bencana bukan hanya merenggut harta benda, tetapi juga rasa aman.
Anak-anak yang kehilangan rumahnya bisa terjaga sepanjang malam oleh mimpi buruk. Orang dewasa yang selamat mungkin dihantui rasa bersalah atau ketidakpastian masa depan.
Tanpa pendampingan yang tepat, trauma dapat berkembang menjadi gangguan psikologis yang menghambat aktivitas harian, produktivitas, hingga kemampuan mereka memulai hidup baru.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pendekatan pemulihan trauma tidak bisa dilakukan secara seragam. Dibutuhkan ruang aman bagi korban untuk bercerita, layanan psikososial yang mudah diakses, serta keterlibatan keluarga dan komunitas sebagai penopang emosional.
Dalam jangka panjang, penanganan trauma yang baik bukan hanya membantu individu pulih, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial sebuah komunitas.
Ketika mental masyarakat kembali stabil, proses rehabilitasi fisik pun dapat berjalan lebih cepat dan efektif. Di tengah upaya membangun kembali rumah dan infrastruktur, pemulihan jiwa menjadi fondasi yang tak boleh diabaikan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Psikolog Klinis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya Kota Denpasar, Bali Nena Mawar Sari mengatakan bahwa masyarakat terdampak bencana ekologis di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat turut membutuhkan dukungan sosial.
“Terkait bencana ekologis di Sumatra menurut saya yang dibutuhkan dalam dukungan sosial yang berdampak pada korban yang pertama adalah dukungan emosional itu berupa layanan psikologis yang membuat mereka merasa punya ruang aman untuk bercerita, perasaannya tervalidasi, kemudian juga untuk bisa mengembalikan sisi trauma yang mungkin terjadi,” ujar Nena saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (6/12).
Yang kedua, lanjut dia, adalah dukungan praktis misalnya bahan makanan, pakaian obat-obatan, logistik lah ya itu sangat dibutuhkan, kemudian selanjutnya adalah dukungan informasi mengenai posko bantuan bahan pangan atau narahubung yang bisa dihubungi misalnya jika terdapat kondisi-kondisi darurat.
“Dan kemudian nanti juga akan dibutuhkan dukungan komunitas bagaikan kita bisa mengembalikan sense of belongingnya misalnya kaya memasak bareng beberes situasi yang kotor bersama kemudian saling mendukung, komunitas yang bisa mengakomodasi bagaimana kita bisa bekerja sama bekerja sama dan tidak merasa sendirian,” tambah dia.
Lebih jauh, ia juga menjelaskan bahwa gejala pascatrauma usai bencana bisa saja terjadi melalui pengulangan yang terbesit di ingatan, kemudian mimpi buruk dan juga penurunan kognitif, sulit berkonsentrasi di sisi lain juga menghindari pembicaraan, menghindari gambar-gambar tentang bencana menjadi gejala pascatrauma.
Selain itu, dari kondisi fisik juga dapat terjadi shacking atau gemetar, kemudian bila mendengar tentang hal yang sama merasa seperti akan pingsan, dan kondisi menghambat aktivitas sehari-hari lainnya seperti phobia, depresi dan lain sebagainya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!