Survei, Green IT, AI, dan Pusat Data Jadi Motor Inovasi Keberlanjutan di Perusahaan Indonesia
📅 Minggu, 30 Nov 2025, 22:20 WIB | Oleh: Haryo BronoPada saat yang sama, hambatan dekarbonisasi terus menurun, termasuk berkurangnya laporan mengenai minimnya alternatif energi bersih (26%, turun dari 35% pada 2023), kurangnya sumber daya pendukung (21%, turun dari 26%), imaturitas teknologi energi bersih (33%, turun dari 45%), serta hambatan regulasi (31%, turun dari 41%).
“Perkembangan ini menunjukkan iklim yang semakin kondusif bagi percepatan transformasi keberlanjutan di berbagai sektor,” kata President Director Schneider Electric Indonesia & Timor Leste Martin Setiawan, melalui keterangan tertulis pada hari Jumat (28/11).
Investasi tetap stabil di tengah dinamika ekonomi
Dengan semakin jelasnya kontribusi keberlanjutan terhadap kinerja bisnis, rencana investasi perusahaan Indonesia tetap stabil, dengan 40% di antaranya berencana mengalokasikan sedikitnya 1 juta dollar AS untuk inisiatif keberlanjutan dalam dua tahun ke depan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski demikian, sejumlah hambatan masih membayangi, terutama ketidakpastian ekonomi (49%), ketidakpastian kebijakan dan regulasi (43%), serta ketidakstabilan geopolitik (39%), yang menjadi faktor utama dalam pertimbangan investasi sektor swasta.
“Perusahaan di Indonesia menjadikan keberlanjutan sebagai langkah strategis untuk terus bertumbuh di tengah situasi bisnis yang penuh dinamika,” ujar Martin.
“Dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan di kawasan ini, para pelaku bisnis bergerak lebih awal memanfaatkan digitalisasi dan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi risiko, dan menciptakan nilai jangka Panjang,” tambahnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kesenjangan antara ambisi dan implementasi nyata masih terjadi
Walaupun komitmen perusahaan Indonesia terhadap keberlanjutan terus menguat, survei ini juga menunjukkan adanya ‘Green Impact Gap’, sebuah kesenjangan antara target keberlanjutan dan aksi nyata untuk mencapainya. Tahun ini, 97% perusahaan di Indonesia memiliki target keberlanjutan, namun kurang dari separuh yang telah mengambil langkah komprehensif untuk mencapainya. Kesenjangan ini konsisten berada di sekitar 48% sejak 2023.
Namun, tahun 2025 dianggap sebagai titik penting menuju target iklim 2030. Perusahaan di Indonesia menunjukkan keyakinan tinggi bahwa mereka dapat mencapai atau bahkan melampaui target tersebut.
Sebanyak 89% perusahaan merasa yakin terhadap target 2030, dan 23% diantaranya mengaku sudah berada tiga tahun lebih cepat dari jadwal. Perusahaan yang targetnya telah diverifikasi oleh pihak ketiga menunjukkan tingkat keyakinan yang lebih kuat, dengan 44% menyatakan sudah tiga tahun lebih cepat dari rencana.
Sementara itu, perusahaan yang membuat komitmen keberlanjutan secara umum namun tidak melaporkan progresnya secara terbuka justru paling banyak yang berpotensi tidak mampu mencapai target di tahun 2030, yaitu 15%. Situasi ini menegaskan bahwa akuntabilitas publik dan verifikasi independen berperan penting dalam keseriusan dan keakuratan pelaporan keberlanjutan.
Memasuki tahun ketiga, survei Schneider Electric Green Impact Gap dilakukan terhadap 4.500 pemimpin bisnis di sembilan negara di Asia: Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!