Memang Berat Tekanan Hidup sehingga 1,5 Persen Warga Jakarta Depresi
📅 Selasa, 25 Nov 2025, 02:12 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Informasi bahwa warga Jakarta usia 15 tahun ke atas mengalami depresi mendapat cermatan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta. Data ini disampaikan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang mencatat sebanyak 1,5 persen penduduk Jakarta yang berusia di atas 15 tahun mengalami depresi.
Staf Khusus Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Publik Chico Hakim mengapresiasi data tersebut. Namun, dia juga menilai angka tersebut menjadi pengingat bagi Pemerintah Jakarta bahwa tekanan kehidupan di ibu kota memang nyata. “Kami terus bekerja keras untuk menekan angka tersebut,” jelas Chico melalui pesan singkat, Senin.
Lebih lanjut, dia menekankan data tersebut tidak ada kaitannya dengan hasil survei internasional TimeOut 2025 yang menempatkan Jakarta sebagai kota paling bahagia ke-18 di dunia. Dia menjabarkan penilaian survei itu berdasarkan keberagaman kuliner, keramahan warga, akses hiburan, ruang terbuka hijau, dan semangat gotong royong.
“Jadi, bukan pengukuran langsung tingkat depresi. Jakarta memang punya banyak alasan untuk dibanggakan dan dicintai warganya, tapi kami tetap aware, ada segmen masyarakat yang sedang berjuang dengan kesehatan jiwa,” ungkap Chico. Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pemprov DKI sudah menyiapkan sejumlah program nyata, antara lain JakCare yang menyediakan layanan konsultasi psikologis gratis 24 jam via telepon di 0800-150-0119.
Selain itu, ada pula aplikasi JAKI Skrining kesehatan jiwa gratis melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di puskesmas dan posyandu. Program ini pun sudah menjangkau ratusan ribu warga.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemudian, ada edukasi dan workshop kesehatan mental di sekolah-sekolah dan komunitas. “Pemerintah Jakarta juga melakukan penguatan tenaga psikolog klinis di puskesmas kecamatan. Kami terus tingkatkan akses dan kurangi stigma, karena Jakarta yang bahagia itu bukan cuma slogan, tapi juga ketika setiap warganya merasa didengar dan didukung,” tutur Chico.
Lindungi Anak
Sementara itu, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan, menyerukan pentingnya kerja bersama dalam memperkuat ekosistem perlindungan anak. Pernyataan itu disampaikannya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin, melalui Badan Komunikasi Pemerintah, menyikapi sejumlah kejadian perundungan terhadap anak.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pencegahan perundungan bullying secara normatif kita sering dengar, tapi bagaimana menjadikan tanggung jawab bersama. Tidak bekerja sendirian, tentu ajakan keluarga, orang tua, pemerintah, lembaga, masyarakat tentunya," katanya. Ia menilai bahwa upaya pencegahan perundungan tidak dapat berhasil apabila dilakukan secara terpisah dan tanpa komitmen kolektif.
Veronica juga menyoroti kebutuhan mendesak untuk meningkatkan literasi digital bagi anak dan orang tua serta memperkuat pengawasan terhadap informasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, peran keluarga sangat penting dalam membangun kebiasaan digital yang sehat, sementara pemerintah terus memperluas edukasi publik agar risiko di ruang digital dapat ditekan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!