Waduh! Penyakit Malaria Bakal Meningkat Gara-gara Perubahan Iklim, Ini Kajiannya
📅 Minggu, 23 Nov 2025, 14:37 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Antara
JAKARTA-Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Lay Monica melaporkan kajian terbaru lembaga itu berjudul “Potensi Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Populasi di Indonesia” menunjukkan bahwa perubahan iklim akan berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
"Peningkatan suhu, gangguan ekosistem, dan frekuensi bencana alam diproyeksikan memperburuk kondisi fisik, mental, dan sosial masyarakat Indonesia dalam beberapa dekade mendatang,"ungkapnya, Jumat (21/11)
Perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan beban penyakit menular maupun tidak menular. Dampak yang paling mengkhawatirkan meliputi penyakit akibat panas ekstrem, gangguan pernapasan, penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti nyamuk pembawa malaria dan demam berdarah, penyakit enterik seperti diare, gangguan gizi, penyakit kardiovaskular, serta gangguan kesehatan mental.
Selain itu perubahan iklim juga menimbulkan tantangan baru terhadap kesehatan populasi di dunia karena dapat menggeser bahkan memperluas wilayah penyebaran penyakit dari satu daerah ke daerah lainnya. "Terdapat potensi pergeseran atau perluasan daerah endemis malaria dan demam berdarah akibat semakin menghangatnya daerah dataran tinggi dan pegunungan, serta meningkatnya suhu di kawasan lintang tinggi beriklim subtropis, bahkan sedang,"papar Lay.
Perubahan temperatur tersebut dapat membuat daerah dingin yang dahulu tidak cocok untuk perkembangbiakan nyamuk atau vektor lain menjadi daerah yang hangat dan nyaman untuk perkembangbiakan vektor dan bibit penyakit yang menyertainya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kajian ini dilakukan oleh Celios pada periode 20 Agustus hingga 22 September 2025 menggunakan metode tinjauan sistematis dengan mengacu pada pedoman PRISMA. Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data PubMed, laporan IPCC, dan publikasi The Lancet Countdown.
Dari 428 artikel ilmiah yang ditelusuri papar Lay, delapan literatur memenuhi kriteria untuk dianalisis lebih lanjut. Hasil kajian menunjukkan masih terbatasnya bukti ilmiah yang secara khusus meneliti dampak perubahan iklim terhadap kesehatan di Indonesia, sehingga dibutuhkan penelitian tambahan yang lebih kontekstual untuk mendukung perumusan kebijakan adaptasi yang efektif.
Temuan Celios menyoroti bahwa gangguan kesehatan akibat kenaikan suhu, kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan dapat meningkatkan risiko penyakit, meningkatkan angka kecelakaan kerja, menurunkan produktivitas masyarakat, memperburuk kualitas udara dan ketahanan pangan, serta mengancam kesehatan mental masyarakat. "Dampak-dampak ini berpotensi menghambat kemajuan yang telah dicapai dalam peningkatan kesehatan publik dan pengentasan kemiskinan di Indonesia,"tutur Lay Monica.
Sebaiknya Anda baca juga:
Celios menilai bahwa kebijakan adaptasi berbasis bukti menjadi langkah mendesak untuk meminimalkan dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Pemerintah perlu memperkuat sistem pemantauan penyakit, meningkatkan kesiapsiagaan tenaga kesehatan, serta berinvestasi dalam riset kesehatan berbasis iklim. Selain itu, integrasi antara kebijakan kesehatan, sosial, dan lingkungan harus menjadi bagian dari strategi adaptasi nasional yang komprehensif.
Kajian ini ujar dia menegaskan bahwa perubahan iklim merupakan ancaman multidimensi terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia. Tanpa langkah adaptasi yang cepat, konsisten, dan berbasis data, beban penyakit maupun kerugian ekonomi dan sosial akibat perubahan iklim akan terus meningkat dalam dekade mendatang. "Celios menyerukan agar kesehatan publik ditempatkan sebagai prioritas utama dalam strategi pembangunan berkelanjutan dan kebijakan adaptasi perubahan iklim di Indonesia,"pungkas Lay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!