Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Merawat Jejak Gunung Rinjani dan Gunung Tambora

📅 Minggu, 23 Nov 2025, 16:15 WIB | Oleh:

Di level kebijakan, kenaikan tarif pendakian berdasarkan Permenhut Nomor 17/2025 tidak hanya bertujuan menambah pemasukan negara, tetapi memaksa peningkatan kualitas layanan.

Digitalisasi melalui aplikasi eRinjani menjadi terobosan penting dalam mencegah pendakian ilegal dan memastikan daya dukung gunung tidak terlampaui.

Semua langkah ini menjadikan Rinjani lebih tertata, meski tantangan sampah, keselamatan, dan tekanan kunjungan tetap menanti.

Sementara itu, Tambora menempuh jalan yang lebih kompleks. Beragam catatan hasil pemantauan lapangan menunjukkan bahwa kawasan ini menghadapi masalah laten mulai dari akses pendakian ilegal, aktivitas penelitian tanpa izin, perburuan satwa, hingga ketidakcukupan infrastruktur pendakian.

Wakil Menteri Kehutanan yang menjajal jalur Doro Ncanga pada Juli 2025 bahkan menegaskan perlunya pagar pengaman di titik rawan bibir kawah.

Titik-titik seperti Piong, Kawinda To’i, Oi Bura, dan Sorinomo masih dipenuhi aktivitas masuk tanpa izin, membuat pengawasan dan keselamatan pendaki menjadi pekerjaan tak pernah selesai.

Untuk itu, Balai TN Tambora menguatkan patroli lapangan, menutup jalur ilegal, dan melibatkan TNI, Polri, KPH, tokoh lokal, serta kelompok pecinta alam.

Namun, langkah teknis saja tidak cukup. Tambora memerlukan tata kelola terpadu berupa satu peta, satu narasi dan satu arah kebijakan.

Salah satu dari anggota DPR Komisi IV mendorong Tambora ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) berbasis konservasi dan budaya. Sebuah langkah yang jika diwujudkan akan memperkuat payung hukum dan integrasi lintas sektor.

Upaya pemda NTB dalam mengembangkan geosite ini juga memiliki ambisi yang tepat sasaran. Diskusi lintas OPD pada November 2025 membuka ruang sinergi, edukasi, konservasi, dan pemberdayaan ekonomi warga.

Tujuan akhirnya adalah membangun tata kelola terpadu yang tidak hanya menampilkan keindahan, tetapi menjamin keberlangsungan hidup masyarakat sekitar.

Refleksi

Pengembangan geosite bukan sekadar membangun spot foto atau membuka jalur baru. Ia adalah cara suatu daerah menautkan identitas, konservasi, serta kesejahteraan warga dalam satu kerangka berkelanjutan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur   

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.