Benteng Willem I, Jejak Kolonial yang Bangkit Kembali
📅 Jumat, 21 Nov 2025, 07:50 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: ANTARA/Aprillio Akbar
DI SEBELAH utara Rawa Pening sejak 1845 berdiri dengan gagah sebuah bangunan peninggalan kolonial. Bernama Fort Willem I dalam Bahasa Belanda, banggunan pertahanan ini lebih popoler disebut dengan nama Benteng Pendem Ambarawa.
Seperti namanya bentang ini berada di berada Bugisari, Desa Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Julukan “Benteng Pendem” berasal dari kata Jawa “pendem” yang berarti “terkubur.” Memang bangunan tampak seperti tenggelam di tengah tanah karena sebagian dindingnya tertutup tanah atau vegetasi.
Sedangkan nama Belanda-nya Fort Willem I dinamai menurut Raja Belanda, Willem Frederik Prins van Oranje-Nassau. Ia merupakan raja pertama Kerajaan Belanda modern yang lahir di Hague pada tanggal 24 Agustus 1772, dan dinobatkan sebagai raja pada tanggal 16 Maret 1815.
Banteng ini sekarang kembali menarik perhatian masyarakat khususnya Jawa Tengah. Pada hari Senin (17/11) bentang ini kembali dibuka untuk umum setelah sebagai destinasi wisata baru setelah proses revitalisasi yang dilakukan sejak bulan Desember 2024 selesai.
Saat ini, benteng ini ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya pada tingkat kabupaten sesuai SK Bupati Semarang. Saat ini bentang yang kembali cantic ini bisa dikunjungi oleh masyarakat umum dengan harga tiket 10.000 rupiah untuk hari biasa dan 15.000 rupiah untuk akhir pekan. Sedangkan tiket untuk wisatawan mancanegara ditetapkan sebesar 25.000 rupiah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Benteng tersebut dibangun di sini karena letak Ambarawa dinilai Belanda sangat strategis. Lokasinya berada di pertemuan tiga kota (Semarang, Salatiga, dan Magelang), sehingga cocok sebagai pangkalan militer dan logistik pada masa kolonial Belanda.
Riwayat Pembangunan
Pembangunannya dimulai sekitar tahun 1834 dan beru selsar pada tahun 1845. Pada masa Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830) lokasi bentang pernah dipakai sebagai titik logistik dan barak oleh kolonial Belanda. Setelah perang itu berakhir, Belanda memutuskan untuk memperkuat status militer Ambarawa melalui pembangunan benteng permanen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah satu pemicu pembangunannya adalah kekhawatiran Belanda atas revolusi di Eropa yaitu Revolusi Belgia (sekitar 1830) membuat Gubernur Jenderal Van den Bosch memerintahkan pembangunan benteng-benteng pertahanan di beberapa titik strategis di Jawa, termasuk di Ambarawa.
Betang lainnya yang dibangun bersama dengan Benteng Willem I adalah Benteng Van den Bosch di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur dan Benteng Cochius yang berada di Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Salah satu pemicu pembangunannya adalah kekhawatiran Belanda atas revolusi di Eropa: Revolusi Belgia (sekitar 1830). Ia khawatir hal ini akan terjadi juga di negeri jajahan sehingga Gubernur Jenderal Van den Bosch memerintahkan pembangunan benteng-benteng pertahanan di beberapa titik strategis di Jawa.
Berlangsung selama kurang lebih 11 tahun, pembangunannya melibatkan banyak tenaga. Menurut catatan, ada sekitar 3.000 kuli pribumi, tahanan kerja paksa, serta insinyur dan penjaga dari militer zeni Belanda. Di sini ada camp pekerja di dekat lokasi benteng, dengan kapasitas sampai 4.500 orang, yang termasuk barak, bengkel, dan pemukiman pekerja.
Meski untuk merespon Revolusi Belgia, Benteng Willem I awalnya difungsikan sebagai barak militer (untuk prajurit), dan gudang logistik dan amunisi. Ketika itu Belanda belum berpikir untuk membangun benteng pertahanan berupa bastion.
Karena perubahan teknologi militer dan tekanan dari gempa (seperti gempa di Ambarawa dalam sejarahnya), fungsi pertahanan mulai berkurang. Gempa di Ambarawa pernah mengguncang benteng ini yang menjadi salah satu faktor mengapa benteng militer ditinggalkan sebagian.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!