Benteng Willem I, Jejak Kolonial yang Bangkit Kembali
📅 Jumat, 21 Nov 2025, 07:50 WIB | Oleh: Haryo BronoYang kedua selain gempa, perkembangan teknologi artileri (meriam) membuat pertahanan benteng menjadi kurang efektif. Meriam terbaru dapat dapat menjangkau berbagai titik di dalam benteng dan menghancurkannya dengan akurat.
Dalam perkembangannya benang pernah beralih fungsi menjadi penjara. Contohnya, salah satu yang pernah ditahan adalah Kiai Mahfud Salam, seorang ulama atau pejuang yang kemudian meninggal saat berada di blok penjara benteng itu. Pada tahun 1927, benteng ini pernah menjadi penjara anak-anak.
Pada peristiwa Pertempuran Ambarawa (20 Oktober -11 Desember 1945), benteng direbut oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR), menandai peran benteng dalam perjuangan kemerdekaan. Sebelumnya Benteng ini dikuasai oleh Sekutu (Inggris).
Sedangkan pada masa pendudukan Jepang (Perang Dunia II), Benang Willem I menjadi kamp tahanan, termasuk untuk orang Eropa dan mereka yang dianggap pembangkang. Setelah kemerdekaan Indonesia, benteng menjadi markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) setelah pertempuran Ambarawa.
Sebaiknya Anda baca juga:
Arsitektur Kolonial
Luas kawasan Benteng Pendem Ambara cukup besar. Dalam revitalisasi disebutkan luas area penanganan mencapai 27.286,38 meter pesegi, dan bangunan di dalamnya sekitar 10.392,42 meter persegi.
Dari sisi arsitektur ada catatan bahwa pondasi benteng menggunakan balok kayu jati yang cukup besar, untuk menopang struktur di tanah yang mungkin lembap atau rawan pergeseran. Apalagi lokasinya berada di dekat dengan perairan danau Rawa Pening.
Sebaiknya Anda baca juga:
Benteng terdiri dari beberapa bangunan, termasuk gedung barak militer dan kantor. Benteng yang mengusung gaya arsitektur kolonial Eropa abad ke-19 dikelilingi oleh empat bastion (bagian pertahanan) dan memiliki dua lantai di beberapa bagian.
Yang menarik ada pengaruh Indische Woonhuis, yaitu gaya rumah kolonial Belanda di Hindia (Indonesia), terutama pada bangunan kediaman/petugas di dalam benteng. Pada fasad beberapa bangunan terdapat gable (atap segitiga) khas arsitektur Eropa.
Penggunaan lengkung ala Romawi (“Roman arch”) juga menjadi fitur arsitektural penting di beberapa bagian benteng. Benteng umumnya berbentuk persegi simetris menurut penelitian, memiliki sistem pertahanan berlapis (defense system) yang kompleks, memanfaatkan topografi lokal untuk memperkuat pertahanan.
Ada bangunan bawah tanah (“terpendam”), yaitu lorong-lorong dan ruangan yang sebagian “terkubur” tanah, memberikan kesan “pendem” dan juga berfungsi sebagai kamuflase pertahanan. Terdapat barak (tempat tinggal prajurit), kantor, gudang amunisi, dan struktur lain untuk logistik.
Banyak jendela di bangunan benteng, mencerminkan fungsi non-tempur (barak / kantor), bukan hanya benteng pertahanan agresif. Benteng menyesuaikan dengan medan alam: memanfaatkan kontur tanah untuk memperkuat posisi pertahanan.
Secara keseluruhan, arsitektur Benteng Willem I menunjukkan keseimbangan antara fungsi militer strategis dan nilai estetika kolonial Eropa, dengan desain yang inovatif seperti ruang bawah tanah (“pendem”) untuk kamuflase dan pertahanan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!