Budidaya Maggot Solusi Efektif Kurangi Sampah ke Bantargebang
📅 Senin, 10 Nov 2025, 18:45 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: DPRD DKI Jakarta
JAKARTA - Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta, Dimaz Raditya, menilai pengelolaan sampah organik berbasis budidaya maggot merupakan solusi efektif untuk mengurangi beban pengiriman sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Menurutnya, metode ini dapat menjadi langkah konkret dalam menekan volume sampah yang dikirim dari Ibu Kota setiap hari.
Dimaz menyampaikan hal itu usai meninjau aktivitas di Bank Sampah Sirkular Nusantara, Kelurahan Tugu Selatan, Jakarta Utara, pada Senin (10/11). Ia menilai inisiatif warga dalam mengelola sampah organik menjadi hal yang patut didukung karena memiliki dampak positif secara ekonomi dan lingkungan.
"Setiap tahun Pemprov DKI mengeluarkan sekitar Rp300 miliar untuk biaya kompensasi kerja sama dengan Pemerintah Kota Bekasi atas pembuangan 7.000 hingga 8.000 ton sampah per hari," ungkap Dimaz.
Ia menilai, beban tersebut bisa ditekan apabila seluruh wilayah Jakarta menerapkan pengelolaan sampah organik dengan memanfaatkan budidaya maggot. Dengan sistem ini, sampah diolah langsung dari sumbernya tanpa harus seluruhnya dikirim ke TPST Bantargebang.
"Satu titik pengelolaan berbasis maggot mampu mengolah 30 hingga 50 ton sampah per hari dan bisa melayani wilayah sekitarnya," ujar Dimaz.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menegaskan, pengolahan sampah langsung dari sumber dapat membantu mengurangi tekanan volume sampah di tingkat kota. Dengan begitu, beban pengangkutan dan biaya pengelolaan di tingkat provinsi juga akan berkurang secara signifikan.
"Artinya, pengolahan sampah dari sumber bisa membantu mengurangi tekanan volume sampah di tingkat kota," tandasnya.
Lebih lanjut, Dimaz menilai inisiatif warga dalam mengembangkan budidaya maggot juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru. Ia menyebut, kegiatan ini tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Budidaya maggot bukan hanya menjaga kebersihan, tapi juga menyerap tenaga kerja lokal dan menciptakan sumber pendapatan baru," jelasnya.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan agar program pengelolaan sampah berbasis maggot bisa berjalan optimal di seluruh wilayah Jakarta. Ia berharap ke depan Pemprov DKI dapat memperluas dukungan dan memberikan pelatihan bagi warga agar sistem ini bisa diterapkan secara luas.
Sementara itu, Ketua RW 07 Tugu Selatan, Suaib Sulaiman, menyebut kapasitas pengolahan sampah organik di wilayahnya saat ini mencapai 15 ton per hari. Ia optimistis kapasitas tersebut bisa meningkat hingga 50 ton jika proses pemilahan dari rumah tangga lebih maksimal.
"Kalau semua kelurahan bisa mengelola seperti ini, persoalan sampah organik di Jakarta sebenarnya bisa selesai," kata Suaib.
Program pengelolaan sampah berbasis maggot di Tugu Selatan menjadi salah satu contoh nyata bahwa partisipasi masyarakat dapat berkontribusi besar terhadap pengurangan sampah di Jakarta. Jika diterapkan secara masif, inisiatif ini diyakini mampu menekan pengeluaran daerah hingga ratusan miliar rupiah dan membantu menjaga kebersihan kota secara berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!