Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

AFPI Pimpin Delegasi Indonesia di Hong Kong FinTech Week 2025, Perkuat Posisi Fintech Lending di Asia Tenggara

📅 Jumat, 07 Nov 2025, 11:58 WIB | Oleh:
AFPI Pimpin Delegasi Indonesia di Hong Kong FinTech Week 2025, Perkuat Posisi Fintech Lending di Asia Tenggara Doc: AFPI
Ket. Delegasi Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) dalam ajang ajang Hong Kong FinTech Week (HKFW) 2025. Pameran dan konferensi teknologi finansial (tekfin) terbesar di dunia yang mempertemukan regulator, investor, dan pelaku utama industri keuangan digital global.

JAKARTA – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memimpin delegasi Indonesia dalam ajang Hong Kong FinTech Week (HKFW) 2025. Pameran dan konferensi teknologi finansial (tekfin) terbesar di dunia yang mempertemukan regulator, investor, dan pelaku utama industri keuangan digital global.

Partisipasi dalam HKFW 2025 menjadi langkah strategis AFPI untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan pinjaman tekfin (fintech lending) di kawasan Asia Tenggara, sekaligus menarik minat investor global terhadap model bisnis pinjaman tekfin yang inovatif dan berorientasi pada perlindungan konsumen.

HKFW 2025 mengusung tema “Fintech Redefined: Building Trust and Global Connectivity” serta menghadirkan 37.000 peserta, 800 pembicara, 700 exhibitor, dan perwakilan lebih dari 30 negara. Dalam forum ini, AFPI berperan aktif sebagai exhibitor bersama anggotanya yakni Amartha, Pinjamin, Privy, dan MonetaPay, sekaligus berkesempatan menampilkan potensi kolaborasi, model bisnis berkelanjutan, serta kontribusi panjaman tekfin terhadap inklusi keuangan nasional.

Ketua Umum AFPI, Entjik S. Djafar, menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar ajang promosi, tetapi juga kesempatan memperluas kemitraan strategis lintas negara untuk ekosistem Pindar. Dalam forum itu pihaknya ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa neger ini memiliki ekosistem pinjaman tekfin yang berkembang pesat

“Melalui Hong Kong FinTech Week, kami ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki ekosistem fintech lending yang berkembang pesat dengan tata kelola yang kuat dan prinsip perlindungan konsumen sebagai prioritas. Model bisnis kami bukan hanya inklusif, tetapi juga investor-friendly karena dijalankan di bawah kerangka regulasi yang jelas dan berintegritas tinggi,” ujar Entjik, melalui keterangan tertulis pada hari Jumat (7/11).

Lebih lanjut, Entjik menekankan pentingnya kolaborasi dengan Hong Kong dalam memperkuat konektivitas regional. Baginya Hong Kong memiliki peran strategis sebagai pusat finansial dan inovasi di Asia bahkan di dunia.

“Kolaborasi dalam bidang teknologi, pendanaan, dan tata kelola akan membantu mempercepat pengembangan sektor fintech Indonesia agar semakin kompetitif dan berstandar internasional,” tambahnya.

Baginya pinjaman daring (pindar) menjadi salah satu pendorong utama inklusi keuangan di Indonesia. System ini mampu menjangkau masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sebelumnya belum terlayani lembaga keuangan formal.

Didukung infrastruktur digital yang semakin merata mulai dari identitas digital, konektivitas internet, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan, pindar kini mampu memperluas akses pembiayaan hingga ke pelosok daerah.

“Melalui infrastruktur digital yang kuat, platform fintech lending dapat menilai kelayakan kredit dengan lebih akurat dan menjangkau UMKM di seluruh Indonesia. Dalam konteks regional, hal ini juga membuka peluang bagi kolaborasi lintas negara, khususnya di kawasan ASEAN dan Tiongkok,” jelas Entjik.

Partisipasi AFPI dan para anggotanya di HKFW diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan fintech di Asia Tenggara, serta membuka peluang investasi dan kerja sama internasional yang berkelanjutan.

Dalam kunjungan ke Hong Kong, AFPI juga berkesempatan menjadi pembicara dalam sesi yang digelar Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI). Direktur Eksekutif AFPI Yasmine Meylia Sembiring memberikan edukasi kepada Pekerja Migran Indonesia (PMI) mengenai pentingnya memahami dan memilih pinjaman daring yang legal dan terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Yasmine mengajak para PMI agar tidak mudah tergiur tawaran pinjol ilegal yang kerap menjerat dengan bunga tinggi dan praktik penagihan tidak beretika. Edukasi ini juga menekankan bagaimana memeriksa legalitas platform pinjaman secara mandiri serta mengenali ciri-ciri pindar/pinjol ilegal yang perlu diwaspadai.

“Dengan pemahaman yang baik, PMI dapat menggunakan layanan Pindar untuk tujuan positif seperti mendukung kebutuhan usaha, pendidikan, atau membantu keluarga di Tanah Air,” ujar Yasmine.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Menanti Data Inflasi AS, 25 Juni 2026

15 menit yang lalu | Rizky

Ekonomi
Menanti Data Inflasi AS, 25...
Nasional
UI Paparkan Pembangunan Kot...

Ziarah makam pahlawan di Surabaya

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Ziarah makam pahlawan di Su...

Gadai emas menjelang tahun ajaran baru

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Gadai emas menjelang tahun ...
Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
# 7
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.