Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Relokasi Pedagang Barito: Antara Langkah Positif Penataan Kota dan Luka Sosial yang Tersisa

📅 Senin, 27 Okt 2025, 16:05 WIB | Oleh:
Relokasi Pedagang Barito: Antara Langkah Positif Penataan Kota dan Luka Sosial yang Tersisa Doc: Istimewa

JAKARTA – Pemindahan pedagang Barito ke Sentra Fauna dan Kuliner Lenteng Agung pada Senin (27/10) menjadi titik balik dalam sejarah panjang perdagangan rakyat di Jakarta Selatan. Pemerintah menilai kebijakan ini sebagai bagian dari upaya strategis menciptakan tata kota yang lebih tertib, hijau, dan berkelanjutan.

Namun di balik niat baik tersebut, proses relokasi juga meninggalkan catatan penting bagi pemerintah dan masyarakat. Dengan metode post mortem, kebijakan ini dapat dilihat dari dua sisi, apa yang berhasil dan apa yang masih menjadi pekerjaan rumah.

Secara positif, langkah relokasi ini menunjukkan keseriusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjaga keseimbangan antara fungsi ekologis dan ekonomi. Wali Kota Jakarta Selatan, M. Anwar, menegaskan bahwa perpindahan pedagang dilakukan dengan pendekatan humanis dan transparan, demi memastikan seluruh pihak mendapatkan fasilitas yang layak.

“Kami terus mendampingi proses perpindahan pedagang dengan pendekatan yang humanis dan transparan. Sesuai arahan Pak Gubernur, kami pastikan seluruh pedagang terfasilitasi dengan baik hingga lokasi kios yang baru rampung,” ujar M. Anwar di Jakarta, Senin (27/10).

Kebijakan pembebasan biaya sewa selama enam bulan di Sentra Fauna dan Kuliner Lenteng Agung menjadi bentuk nyata komitmen Pemprov untuk meringankan beban pedagang. Selain itu, pedagang yang lebih awal pindah diberi kesempatan menempati lokasi kios yang lebih strategis sebagai bentuk apresiasi terhadap kesediaan mereka mengikuti program pemerintah.

Langkah ini juga memberikan keuntungan besar dalam konteks tata ruang kota. Penggabungan tiga taman ikonik yakni Taman Leuser, Taman Ayodya, dan Taman Langsat menjadi satu kawasan ruang terbuka hijau bernama Taman Bendera Pusaka menjadikan wilayah Barito kembali pada fungsi awalnya sebagai paru-paru kota.

Dari sisi lingkungan, penataan ini menjadi kemenangan besar. Selama bertahun-tahun, kawasan Barito dipenuhi pedagang dengan kondisi yang semrawut, fasilitas minim, dan ruang gerak terbatas. Aktivitas ekonomi di sana sering menimbulkan kemacetan, menurunkan estetika kawasan, serta berdampak pada kebersihan dan tata kota.

Namun, di sisi lain, dampak sosial dan ekonomi dari relokasi ini juga tak bisa diabaikan. Banyak pedagang harus menyesuaikan diri dengan lokasi baru yang jauh dari pelanggan lama mereka. Mereka kehilangan basis konsumen yang telah terbentuk selama bertahun-tahun di kawasan Barito.

Meski pemerintah memberikan insentif dan fasilitas baru, masa adaptasi tetap menjadi tantangan besar. Pola konsumsi di Lenteng Agung berbeda, dan diperlukan waktu bagi pedagang untuk membangun kembali kepercayaan dan loyalitas pelanggan.

Bagi sebagian pedagang, Barito bukan sekadar tempat berjualan, melainkan ruang sosial yang membentuk identitas dan komunitas. Perpindahan ini meninggalkan rasa kehilangan yang mendalam, terutama bagi mereka yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup di sana.

Selain itu, sebagian pedagang juga mengaku khawatir dengan aksesibilitas lokasi baru. Letak Sentra Fauna dan Kuliner Lenteng Agung yang lebih jauh dari pusat aktivitas masyarakat membuat arus pengunjung belum stabil, terutama pada hari-hari biasa.

Dari hasil evaluasi awal, keberhasilan kebijakan ini bergantung pada sejauh mana pemerintah mampu memastikan kesinambungan ekonomi para pedagang pascarelokasi. Bantuan teknis, promosi lokasi baru, dan pemberdayaan usaha mikro menjadi faktor penting agar langkah penataan ini tidak hanya indah secara visual, tetapi juga adil secara ekonomi.

M. Anwar menyebut, proses pendampingan tetap berjalan agar para pedagang tidak merasa ditinggalkan. Pemerintah berkomitmen melakukan monitoring secara rutin untuk memastikan kegiatan ekonomi di lokasi baru dapat berkembang dengan baik.

“Biaya retribusi pedagang di lokasi tersebut berkisar antara Rp150.000 hingga Rp200.000 per bulan. Namun, selama masa adaptasi, pedagang tidak akan dikenakan biaya untuk menyesuaikan dengan pola konsumen yang mereka harapkan,” jelasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
DPR Sebut Dugaan Korupsi Ke...

Polri Tunda Pelaksanaan Operasi Patuh Jaya

19 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Polri Tunda Pelaksanaan Ope...
Megapolitan
Pemprov DKI Tertibkan Parki...
Olahraga
TVRI Pastikan Kesiapan Siar...
Olahraga
FIFA Umumkan 18 Lagu Masuk ...
Nasional
Mensesneg: Presiden Lantik ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
BMKG Catat Tsunami Tertinggi Terjadi di Talengan-Sangihe, Sulut

BMKG Catat Tsunami Tertinggi Terjadi di Talengan-Sangihe, Sulut

08 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 4
# 4
Ratifikasi IEU-CEPA Dorong Daya Saing
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.