Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Sri Sultan: Dari Smart Fabrics hingga Bio-Textiles, Masa Depan Tekstil Telah Tiba

📅 Jumat, 24 Okt 2025, 16:20 WIB | Oleh:
Sri Sultan: Dari Smart Fabrics hingga Bio-Textiles, Masa Depan Tekstil Telah Tiba Doc: Dok. @humasjogja

YOGYAKARTA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa perjalanan panjang industri tekstil tidak bisa dilepaskan dari perkembangan peradaban manusia. Tekstil, menurutnya, selalu menjadi bagian penting dalam menjawab kebutuhan dasar umat manusia, yang kini berkembang mengikuti perubahan zaman.

Hal itu disampaikan Sri Sultan saat menghadiri Welcome Dinner The International Textile Manufacturers Federation (ITMF) dan International Apparel Federation (IAF) Annual Meeting 2025 di Hotel Royal Ambarrukmo, Kamis (23/10). Dalam kesempatan tersebut, ia menyebutkan bahwa fungsi dasar sandang sebagai kebutuhan pokok tidak pernah berkurang, justru terus berevolusi.

“Seiring pertumbuhan populasi dan meningkatnya kelas menengah dunia, kebutuhan ini meluas bukan hanya dari segi kuantitas, tetapi juga kualitas, keberlanjutan, dan bahkan fungsi. Kain tidak lagi hanya sekadar menutupi dan melindungi tubuh, tetapi telah menjadi medium bagi smart fabrics yang memantau kesehatan, bio-textiles yang ramah lingkungan, serta material canggih hasil rekayasa nano,” ujar Sri Sultan.

Sri Sultan menilai, industri tekstil ke depan akan menghadapi sejumlah tantangan besar. Pertama, tuntutan keberlanjutan yang bersifat multidimensi, yang menekan industri untuk beralih dari ekonomi linear menuju ekonomi sirkular yang regeneratif. “Tantangan ini tidak hanya tentang mengurangi limbah, tetapi juga menekan konsumsi air, polusi mikroplastik, dan emisi karbon dari rantai produksi global,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti disrupsi digital dan kesenjangan teknologi sebagai tantangan lain. Revolusi industri 4.0 membawa otomasi, kecerdasan buatan, dan blockchain yang mengubah lanskap produksi, namun di sisi lain dapat memperlebar jarak antara perusahaan besar dan pelaku usaha kecil menengah yang sulit mengakses teknologi.

“Tantangan lainnya adalah kompleksitas rantai pasok global, yang memungkinkan efisiensi namun juga menciptakan kerentanan terhadap guncangan, mulai dari pandemi, konflik geopolitik, hingga fluktuasi harga bahan baku,” lanjutnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Sri Sultan menekankan pentingnya membangun visi berbasis ekosistem dan kolaborasi lintas sektor. “Industri tekstil di masa depan adalah kolaborasi antara data saintifik dan maestro tenun, antara insinyur bioteknologi dan perajin tradisional, antara regulator yang visioner dan pelaku industri yang gesit. Mari bersama membangun peta jalan menuju Textile 5.0, era di mana industri ini menjadi pionir keberlanjutan, inklusivitas, dan kecerdasan buatan tanpa kehilangan jati dirinya,” tegas Sri Sultan.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Jemmy Kartiwa Sastratmaja, menyampaikan bahwa pertemuan tahunan ITMF dan IAF kali ini diikuti sekitar 350 peserta, terdiri atas 268 tamu mancanegara dan 89 tamu dari dalam negeri. Ia berharap forum ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan penyusunan strategi keberlanjutan industri tekstil global.

“Malam ini kita bersama merayakan komitmen memajukan salah satu sektor penting dunia melalui kolaborasi dan saling belajar tanpa batasan. Semua ini demi mewujudkan masa depan berkelanjutan bagi industri tekstil dan pakaian jadi,” katanya.

Jemmy menambahkan, tema pertemuan tahun ini adalah “Menavigasi Ketidakpastian dan Mengadopsi Teknologi: Jalan Menuju Kekuatan Berkelanjutan dalam Industri Tekstil dan Pakaian Jadi.” Yogyakarta dipilih sebagai tuan rumah karena dianggap memiliki kekayaan warisan seni, kerajinan, dan kreativitas yang kuat. “Yogyakarta juga dikenal memiliki esensi industri tekstil dan fesyen yang mempertemukan tradisi dengan inovasi. DIY merupakan pusat produsen tekstil dan garmen yang terus berkembang, sehingga layak menjadi perhatian pemangku kepentingan,” ujarnya.

Pertemuan ITMF dan IAF Annual Meeting 2025 berlangsung selama dua hari, 24–25 Oktober 2025. Rangkaian kegiatan turut menampilkan pameran “Batik dalam Daur Hidup” karya Afif Syakur serta peragaan busana dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DIY.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Ekonomi
Antrean BBM Jadi Sorotan, G...
Olahraga
Liverpool Gagal Menang di A...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.