Hindari Musim Dingin dan Bertahan Hidup, Ribuan Burung Raptor Migrasi ke NTB
📅 Senin, 20 Okt 2025, 20:08 WIB | Oleh: OpikBurung migran memainkan peran kunci dalam pengendalian hama terpadu. Mereka bernilai bukan hanya karena kemampuan mengendalikan hama serangga, namun juga menjaga wabah di masa mendatang agar bisa seminimal mungkin.
Walau memiliki peran besar bagi ekologi, populasi burung migran yang terlalu banyak dapat menimbulkan kompetisi dengan burung-burung lokal. Bahkan, keberadaan mereka bisa memicu konflik dengan manusia yang menjalankan aktivitas usaha tambak ikan.

Seorang warga mengamati burung migran menggunakan teleskop dalam festival migrasi burung pemangsa di Bukit Nipah, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (18/10). Antara/Sugiharto Purnama
Spesies rentan
Sebaiknya Anda baca juga:
Kehidupan burung-burung migran yang sangat bergantung terhadap banyak habitat di berbagai negara yang disinggahi membuat mereka masuk dalam kategori spesies rentan atau vulnerable species.
Burung pemangsa, seperti Elangalap Cina dan Sikep Madu Asia masuk daftar perlindungan di Indonesia. Sedangkan, burung air seperti Undan (Ardea spp) dan beberapa jenis trinil dilindungi secara global lewat kerangka Konvensi Ramsar dan EAAF Partnership.
Di kawasan ekowisata mangrove Bagek Kembar yang terletak di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat misalnya kondisi sampah dan limbah yang terbawa gelombang laut memberi risiko bagi burung-burung migran yang singgah di sana.
Degradasi lingkungan merusak sumber pakan dan konservasi habitat dari hutan ke pemukiman atau agrikultur turut berpengaruh bagi kehidupan burung migran.
Paruh Bengkok Indonesia mencatat fenomena perubahan iklim yang mempengaruhi pola cuaca lokal terlihat jelas dari kunjungan burung-burung pantai asal Australia ke Bendungan Batujai di Kabupaten Lombok Tengah.
Dahulu, hujan tidak terjadi sepanjang tahun yang membuat bendungan tersebut tidak selalu tergenang air. Burung-burung pantai yang datang setiap pertengahan tahun ke Bendungan Batujai menyukai kawasan yang ditumbuhi reremputan.
Kini Bendungan Batujai selalu tergenang sepanjang tahun yang membuat burung-burung migran tersebut pindah ke Bandara Lombok.
Perpindahan habitat burung migran dari Bendungan Batujai ke Bandara Lombok akibat perubahan iklim yang mengubah pola cuaca berbahaya bagi keselamatan penumpang pesawat udara. Burung-burung pantai yang bergerombol hingga mencapai ratusan ekor bisa merusak pesawat terbang saat lepas landas atau mendarat melalui tabrakan yang disebut bird strike.
Kerusakan yang dapat dialami pesawat meliputi kerusakan mesin, kaca depan dan sayap, hingga gangguan komunikasi serta navigasi. Pemerintah dan pihak terkait perlu melakukan rekayasa habitat dengan membangun kawasan lain yang ditumbuhi banyak rumput agar burung-burung migran tidak lagi mencari makan di sekitar bandara.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!