Hindari Musim Dingin dan Bertahan Hidup, Ribuan Burung Raptor Migrasi ke NTB
📅 Senin, 20 Okt 2025, 20:08 WIB | Oleh: OpikSaat ini ada sembilan jalur migrasi burung di dunia, salah satu jalur terpadat adalah jalur terbang Asia Timur-Australia yang membentang dari Rusia Timur dan Alaska menuju selatan hingga Australia dan Selandia Baru. Jalur itu dilewati oleh lebih dari 50 juta burung migran setiap tahun.
Kawasan Nusa Tenggara, meliputi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, merupakan koridor penting bagi perjalanan burung-burung migran, terutama burung pemangsa dan burung pantai. Mereka menjadikan Nusa Tenggara sebagai stopover site atau tempat singgah alami di sela penerbangan panjang dari Siberia, Jepang, dan China menuju Australia.

Seorang anggota organisasi Paruh Bengkok Indonesia memajang foto-foto burung migran jenis raptor dalam festival migrasi burung pemangsa di Bukit Nipah, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (18/10). Antara/Sugiharto Purnama
Peran ekologi
Sebaiknya Anda baca juga:
Jutaan burung yang melakukan migrasi setiap tahun memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan menjadi penghubung ekosistem lintas benua.
Guru Besar Bidang Ekologi Hewan Universitas Mataram I Wayan Suana mengatakan burung migran bisa menjaga keseimbangan populasi mangsa, seperti ikan kecil, serangga, dan tikus. Hal itu dapat mengurangi kebutuhan pestisida pada sektor pertanian.
Burung migran juga berperan menyebarkan benih dan nutrien melalui kotoran mereka yang kaya fosfor dan nitrogen, serta menjadi indikator kesehatan ekosistem.
"Jika burung migran hadir, ekosistem dianggap sehat," kata Wayan.
Para ilmuwan menjadikan burung migran sebagai bioindikator untuk mengetahui kondisi ekosistem global. Ketika pola migrasi dan jumlah populasi burung-burung migran berubah, maka kondisi itu mencerminkan ada perubahan lingkungan entah akibat pemanasan global, polusi, atau bahkan kerusakan habitat.
Ilmuwan Smithsonian Migratory Bird Center, John Sterling, mengungkapkan burung merupakan pengendali hama serangga yang berteknologi maju, bermotivasi tinggi, sangat efisien, dan hemat biaya.
Meski serangga telah mengembangkan berbagai taktik untuk menghindari pemangsa, mereka masih berhadapan dengan banyak spesies burung yang sangat adaptif dan ulung dalam memakan serangga.
Pada 2022, fenomena ledakan populasi belalang kembara merusak ribuan hektare lahan padi dan jagung program food estate di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Populasi burung predator yang menurun akibat perburuan yang dilakukan manusia punya kaitan erat dengan ledakan populasi belalang di wilayah tersebut.
Wabah serangga dapat menimbulkan kerugian finansial serta menimbulkan kelaparan massal akibat gagal panen yang dialami sektor pertanian dan kehutanan di seluruh dunia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!