Ketegangan AS-Tiongkok Memanas Lagi: Perang Dagang Berebut Kendali Mineral Langka
📅 Kamis, 16 Okt 2025, 21:00 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: Reuters
JAKARTA - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali meningkat, kali ini akibat perselisihan seputar perdagangan mineral langka yang menjadi bahan vital bagi sektor teknologi. Washington menuduh Beijing menggunakan kendali atas pasokan tersebut untuk memperkuat pengaruh ekonomi dan geopolitiknya.
Kedua negara saling melontarkan kritik setelah Tiongkok membatasi ekspor beberapa jenis mineral penting yang digunakan dalam pembuatan chip, kendaraan listrik, dan sistem pertahanan. Langkah itu dianggap sebagai respons atas kebijakan pembatasan ekspor teknologi canggih yang sebelumnya diterapkan AS terhadap perusahaan Tiongkok.
“Tiongkok tampaknya sedang memanfaatkan dominasi pasarnya di sektor mineral langka untuk menekan negara lain,” ujar seorang pejabat Departemen Perdagangan AS seperti dikutip Reuters. “Kami akan menilai semua opsi untuk memastikan stabilitas rantai pasokan global.”
Beijing membantah tuduhan tersebut dan menyebut langkah pembatasan ekspor sebagai bagian dari kebijakan perlindungan sumber daya nasional. Pemerintah Tiongkok menegaskan bahwa kebijakan tersebut bertujuan menjaga kepentingan strategis negaranya tanpa melanggar aturan perdagangan internasional.
“China berhak mengatur ekspor sumber daya alamnya sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional,” kata juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok dalam konferensi pers di Beijing. Langkah ini tidak ditujukan untuk pihak manapun secara khusus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski demikian, para analis menilai kebijakan China berpotensi memperdalam konflik ekonomi antara dua kekuatan terbesar dunia itu. Mineral langka kini menjadi salah satu sektor paling sensitif karena berperan penting dalam transisi energi bersih dan pengembangan teknologi masa depan.
Washington sendiri tengah berupaya memperkuat produksi dan pengolahan mineral di dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada impor dari China. Pemerintah AS juga menjajaki kerja sama dengan sekutu seperti Australia dan Kanada untuk membangun rantai pasokan alternatif.
Namun, Tiongkok masih memegang kendali lebih dari 70 persen produksi global mineral langka. Kondisi ini memberi Beijing posisi tawar yang kuat dalam menghadapi tekanan ekonomi dari Barat, termasuk sanksi dan pembatasan teknologi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ekonom menilai konflik ini berpotensi mengguncang pasar global dan meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor, mulai dari otomotif hingga elektronik. Investor juga dilaporkan mulai waspada terhadap risiko gangguan pasokan yang bisa memengaruhi stabilitas industri teknologi.
“Ketegangan semacam ini dapat menciptakan ketidakpastian besar di pasar energi bersih dan semikonduktor,” ujar analis perdagangan internasional dari Peking University dalam wawancara dengan Reuters.
“Dampaknya bisa terasa luas karena mineral langka adalah jantung dari industri masa depan.”
Sementara itu, AS dan Tiongkok belum menunjukkan tanda-tanda meredakan retorika tajam mereka. Keduanya bahkan diperkirakan akan saling menerapkan kebijakan balasan yang dapat memperburuk hubungan dagang.
Pemerintah AS kabarnya sedang menyiapkan kebijakan insentif bagi perusahaan dalam negeri yang mau berinvestasi di sektor pengolahan mineral strategis. Langkah ini dinilai sebagai upaya memperkuat kemandirian industri dari ketergantungan pada pemasok luar negeri.
Tiongkok menilai pendekatan tersebut sebagai bentuk proteksionisme baru yang bisa merugikan perdagangan bebas global.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!