Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

500 Pelajar Keracunan MBG, Sekda Jabar Turun Tangan

📅 Rabu, 24 Sep 2025, 18:08 WIB | Oleh:
500 Pelajar Keracunan MBG, Sekda Jabar Turun Tangan Doc: ANTARA/Abdan Syakura
Ket. Siswa keracunan makanan setelah menyantap MBG menjalani perawatan medis di Posko Penanganan Kantor Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (24/9).

BANDUNG BARAT – Sekretaris Daerah Provinsi (Sekda) Provinsi Jawa Barat (Jabar), Herman Suryatman, memastikan 500 pelajar yang diduga mengalami keracunan massal akibat menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat mendapat penanganan medis yang baik.

“Kami harus mengantisipasi risiko paling buruk yang tidak bisa ditangani di lokasi dan harus dirawat,” ujar Herman di Bandung Barat, Rabu. Untuk itu, pihaknya segera mengerahkan tenaga medis dan ambulans dari berbagai daerah guna menangani para siswa.

Hingga sore hari, tercatat 400 siswa menunjukkan gejala keracunan di Cipongkor, sedangkan 100 lainnya di Desa Citalem. “Teridentifikasi ada 500 yang mengeluh dan langsung kami tangani. Kami sudah cek dua-duanya, kondisinya seperti itu,” kata Herman.

Gejala yang dialami para pelajar beragam, mulai dari mual, sesak napas, pusing, lemas, hingga kejang pada satu hingga dua siswa. “Keluhannya pada umumnya mual, kemudian sesak, pusing, lemas. Ada juga satu hingga dua yang kejang,” tambahnya.

Selain penanganan di lokasi, Herman menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah rumah sakit rujukan di Bandung Raya untuk memastikan seluruh siswa mendapat perawatan optimal. Beberapa rumah sakit yang disiapkan antara lain RS Cibabat, RS Dustira, RS Otista, RS Sartikasih, Cahaya Kawaluyan, Parahyangan, hingga RS Al-Islam. “Untuk rumah sakit tidak kekurangan, tempat tidurnya juga kami siapkan maksimal,” ujarnya.

Data sementara dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat menunjukkan total kasus keracunan MBG di Cipongkor hingga Rabu sore mencapai 911 pelajar. Jumlah ini merupakan akumulasi dari dua kejadian, yakni Senin (22/9) sebanyak 411 siswa dan peristiwa terbaru pada Rabu ini yang menimpa 500 anak.

Kejadian ini memicu perhatian serius pemerintah daerah untuk meninjau ulang prosedur pengolahan dan distribusi makanan MBG. Selain fokus pada penanganan medis, pihak terkait juga mulai menyelidiki penyebab keracunan agar kasus serupa tidak terulang di masa mendatang. Herman menegaskan, keselamatan dan kesehatan anak-anak tetap menjadi prioritas utama dalam setiap program pemerintah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp84.400/...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

51 menit yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Olahraga
Janice Tjen Mulus ke Peremp...
Nasional
Grab Tegaskan Rumor Hengkan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.