Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mendesak Moratorium MBG, Siswa Keracunan Meluas. Selidiki Potensi Korupsi

📅 Jumat, 19 Sep 2025, 15:03 WIB | Oleh:
Mendesak Moratorium MBG, Siswa Keracunan Meluas. Selidiki Potensi Korupsi Doc: ist
Ket. keracunan mbg

GARUT – Tidak perlu malu, pemerintah tak boleh menutup mata bahwa telah terjadi begitu banyak siswa keracunan makan yang katanya bergizi. Jangan sampai anak sehat gara-gara ada MBG menjadi pada sakit-sakitan. Maka perlu moratorium pemberian MBG. Benahi dulu komponennya agar benar-benar siap. Sebab semua mengeklaim sudah sesuai dengan prosedur. Lalu mengapa masih terus saja jatuh korban keracunan MBG.

Selama moratorium (pemberhentian sejenak) perlu juga diselidiki potensi korupsi. Misalnya, mengurangi standar yang ditetapkan, kalau tidak ada pengurangan standar, tidak mungkin banyak siswa keracunan. Untuk mengambil untung yang lebih besar, maka standarnya diturunkan.

Terbaru 500 siswa Garut keracunan. Saat ini Kepolisian Resor Garut menyelidiki penyebab keracunan massal siswa di Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, Jawa Barat untuk mengetahui karena diduga mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau adanya faktor lain.

"Kami melanjutkan penyelidikan lebih mendalam untuk mengetahui faktor penyebab, termasuk kemungkinan uji sampel makanan oleh pihak berwenang," kata Kepala Seksi Humas Polres Garut Ipda Susilo Adi di Garut, Kamis. Ia menuturkan, kepolisian setelah mendapatkan informasi adanya siswa mengalami sakit dengan gejala keracunan makanan itu langsung bergerak melakukan pengamanan memastikan semuanya sudah ditangani secara medis.

Hasil laporan di lapangan pada Rabu (17/9) malam, kata dia, tercatat sebanyak 194 siswa yang terdampak terdiri dari 177 siswa mengalami gejala ringan, dan 19 siswa harus dirawat secara intensif di Puskesmas Kadungora. "Kami juga melakukan pengumpulan bahan keterangan untuk memastikan ada atau tidaknya penambahan korban," katanya.

Ia menyebutkan seluruh siswa mengeluhkan sakit seperti pusing, mual, dan muntah-muntah setelah menyantap makanan yang disajikan di sekolahnya pada Selasa (16/9), kondisi kesehatannya itu terus berlanjut keesokan harinya sampai akhirnya mendapatkan perawatan medis.

Kepolisian sampai saat ini, kata dia, masih terus melakukan investigasi berikut mengumpulkan keterangan sejumlah pihak dan juga melakukan uji laboratorium makanan yang dikonsumsi korban berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Garut. "Langkah investigasi akan berlanjut," katanya.

Ia menyampaikan laporan saat ini korban yang masih dirawat yakni siswa MA Maarif Cilageni sebanyak 12 orang, siswa SMP Siti Aisyah sebanyak tiga orang, siswa SMA Siti Aisyah sebanyak satu orang, dan siswa SDN 2 Mandalasari tiga orang, korban lainnya rawat jalan. "Saat ini korban masih dalam penanganan tenaga medis," kata Susilo Adi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.