Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kegiatan Terorisme di Indonesia Masih Ada

📅 Jumat, 12 Sep 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

BNPT bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sepakat memperkuat sinergi untuk mencegah penyebaran ekstremisme berbasis kekerasan dan penguatan literasi ideologi kebangsaan di lingkungan perguruan tinggi.

Penerimaan mahasiswa baru adalah momentum tepat untuk menginformasikan bahwa kehidupan kampus berbeda dari dunia sekolah. Banyak mahasiswa baru yang merasa bebas dan ingin mencoba hal baru. Ini menjadi titik strategis untuk membangun ketahanan ideologi.

Selain menyasar generasi muda dan mahasiswa, apa langkah BNPT lainnya dalam mencegah ancaman intoleransi dan radikalisme di Tanah Air?

BNPT selalu mengingatkan ancaman intoleransi, radikalisme, hingga terorisme harus dicegah sejak dini karena dapat melemahkan fondasi bangsa. Untuk itu, pihaknya mengajak seluruh elemen masyarakat dalam menjaga persatuan dan memperkuat komunikasi melalui forum dialog kebangsaan guna memecahkan berbagai masalah sosial di masyarakat.

Langkah ini penting dalam melakukan pencegahan dini intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Apa manfaat dari dialog Forkopimda?

Kegiatan seperti itu sangat penting untuk memperkuat komunikasi dan mencegah terjadinya kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Kalau di Surabaya dulu saya menyebutnya cangkrukan, di mana setiap minggu kami berdialog dengan Forkopimda dan masyarakat agar komunikasi tidak lemah. Forum seperti ini bermanfaat sebagai wahana untuk menyelesaikan persoalan bersama.

Meski Kondusif, dialog kebangsaan tetap diperlukan agar berbagai bibit masalah seperti intoleransi dan radikalisme bisa diantisipasi sejak dini. Pasalnya kalau dibiarkan tumbuh, intoleransi bisa berkembang menjadi radikalisme, ekstremisme, hingga terorisme, sehingga sebelum membesar, harus dihilangkan sejak awal.

Apakah ada peran dari sejarah bangsa dalam penguatan persatuan dan kesatuan?

Sejarah tak bisa ditinggalkan. Sejarah lahirnya bangsa Indonesia itu dibangun atas dasar persatuan dalam perbedaan. Para pendiri bangsa yang tergabung dalam Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera, Jong Ambon, dan organisasi kepemudaan lainnya sepakat memilih Pancasila dan Burung Garuda sebagai lambang persatuan. Namun, kini perbedaan agama atau suku sering dijadikan masalah. Padahal, persatuan dan kesatuan adalah kunci agar bangsa ini kuat.

Wajar jika kemudian, isu radikalisme sering disusupkan pihak luar dengan menyasar generasi muda sebagai target utama. Apalagi, pemerintah menargetkan Indonesia pada 2045 masuk lima besar ekonomi dunia. Tetapi, ada pihak yang tidak senang dengan kemajuan itu.

Karena itu, dirinya menegaskan para pemuda harus terus dijaga sebagai penerus yang kelak menggantikan para pemimpin daerah dan nasional.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Dana Bagi Hasil Tertahan, J...
Megapolitan
Kolaborasi Lintas Subsektor...
Nasional
Obligasi Daerah Jangan Jadi...
Daerah
Gerak Cepat, KAI Sumut Evak...

Gawat Terus Bertambah! Jumlah Migran Tewas Saat Masuki Ceuta dari Maroko Capai 90 Orang

Gawat Terus Bertambah! Jumlah Migran Tewas Saat Masuki Ceuta dari Maroko Capai 90 Orang

02 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.