Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tiktaalik, Fosil Penyambung Mata Rantai Evolusi yang Hilang

📅 Selasa, 09 Sep 2025, 07:42 WIB | Oleh:
Tiktaalik, Fosil Penyambung Mata Rantai Evolusi yang Hilang Doc: Dan Dry/Universitas Chicago
Ket. Prof. Neil Shubin, yang menemukan fosil Tiktaalik roseae berusia 375 juta tahun , akan menyampaikan kuliah berjudul, “Menemukan Ikan Batin Anda: Fosil, Gen, dan Sejarah Kehidupan.”

EVOLUSI terjadi sedikit demi sedikit. Semuanya bergantung pada fakta bahwa semua organisme memiliki kode genetik yang sedikit berbeda kode ini terus berubah, baik karena induknya bertukar materi genetik atau hanya karena mutasi spontan yang acak.

Setiap perubahan kecil ini dapat membuat makhluk lebih siap atau lebih buruk untuk bertahan hidup di dunia di sekitarnya. Misalnya, mungkin ia memiliki mata yang sedikit lebih besar yang memungkinkannya melihat lebih baik dalam gelap, atau kulitnya memiliki pola unik yang berarti predator cenderung tidak menemukan dan memakannya.

Ia dapat mewariskan sifat-sifat tersebut kepada anak-anaknya. Seiring waktu, perubahan-perubahan ini dapat terakumulasi hingga mencapai titik di mana suatu populasi sangat berbeda dari iterasi sebelumnya sehingga dapat disebut spesies baru.

Istilah “mata rantai yang hilang” (missing link) mengacu pada pertanyaan yang sering diajukan orang tentang bagaimana spesies berevolusi menjadi semua bentuk yang berbeda ini. Bukankah seharusnya ada makhluk perantara antara kera dan manusia, misalnya.

Para ahli menganggap istilah ini sudah ketinggalan zaman. Sebaliknya, anggaplah evolusi sebagai pohon, bukan rantai. Artinya, tidak setiap spesies hewan berevolusi secara langsung menjadi spesies lain; seperti halnya burung dodo dan T-rex punah tanpa berevolusi menjadi spesies lain, beberapa cabang pada pohon evolusi berakhir begitu saja.

Itu berarti bahwa manusia dan kera berevolusi secara terpisah dari nenek moyang yang sama jutaan tahun yang lalu. Hal ini berbeda dengan rantai tunggal dan langsung ketika satu spesies berevolusi menjadi spesies lain.

Meskipun demikian, para ilmuwan telah menemukan banyak fosil dengan atribut makhluk yang hidup di dekat titik percabangan utama pada pohon evolusi. Misalnya, ahli paleontologi Universitas Chicago, Neil Shubin, menemukan fosil ikan purba bernama Tiktaalik yang memiliki ciri-ciri anggota tubuh manusia di dalam kerangka siripnya sejak hewan mulai beralih dari hidup di lautan menuju ke daratan.

Mata Rantai yang Hilang

Orang-orang menggunakan istilah “mata rantai yang hilang” untuk merujuk pada spesies dalam catatan fosil yang menunjukkan bukti bagaimana makhluk hidup mengembangkan beragam fitur yang ada seperti saat ini, seperti paru-paru, sayap, atau kaki.

Ratusan juta tahun yang lalu, semua kehidupan ada di lautan luas Bumi. Para ilmuwan telah menelusuri bagaimana spesies berevolusi untuk berjalan di darat dan terbang di angkasa dengan menemukan fosil, memeriksa DNA, dan menjalankan eksperimen.

“Sekilas tampak sangat mustahil. Bagaimana ikan berevolusi untuk berjalan, bernapas, dan makan di darat?” kata Prof. Neil Shubin dikutip dari laman The University of Chicago.  “Namun kenyataannya, ketika kita menemukan fosil, ketika kita mengamati genetika, DNA, dan embrio, transisi besar itu tidak hanya menjadi mungkin, tetapi juga sangat mungkin,” tambahnya.

Pada tahun 2004, Shubin memimpin tim yang menemukan Tiktaalik, ikan purba yang hidup 375 juta tahun lalu dan memiliki ciri-ciri di antara ikan dan hewan darat modern. Ini merupakan titik krusial ketika kehidupan pertama kali mulai menjelajah keluar dari lautan dan menuju daratan.

Sedikit demi sedikit, para ilmuwan terus mengumpulkan lebih banyak data untuk melacak evolusi kehidupan dari waktu ke waktu, menciptakan diagram yang kompleks. Mereka terus-menerus menganalisis ulang dan menguji untuk lebih memahami cara kerja evolusi.

Satu hal yang dapat dilihat adalah bahwa evolusi bukanlah perkembangan teratur dari satu spesies ke spesies berikutnya. Peluang acak dan seleksi alam sama-sama berperan dalam menentukan spesies mana yang bertahan dan mana yang punah. Misalnya, spesies yang beradaptasi sempurna untuk hidup di hutan dapat punah jika daerah tersebut banjir seiring waktu dan menjadi rawa.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Beruntung Timnas Brasil Tidak Kalah dari Maroko

32 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Dunia, Beruntung Timn...

Ramalan Cuaca, Jakarta Siang Ini Bakal Diguyur Hujan

36 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Ramalan Cuaca, Jakarta Sian...

Hari Emas Minggu Pagi Ini Naik Tipis

40 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Hari Emas Minggu Pagi Ini N...

Hari Ini Indonesia Berawan dan Sebagian Turun Hujan

42 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Nasional
Hari Ini Indonesia Berawan ...
Nasional
Kasus-kasus Pertahanan Akan...
Megapolitan
BMKG: Hampir Seluruh Wilaya...
Nasional
KSP Kawal Pelaksanaan Progr...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wali Kota Bandung Ancam Sanksi ASN yang Terlibat Judi Online Berkedok Bola

Wali Kota Bandung Ancam Sanksi ASN yang Terlibat Judi Online Berkedok Bola

13 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.