Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pengusaha Mal Teriak! Omzet Jatuh 50 Persen Gara-Gara Demo Rusuh, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

📅 Senin, 01 Sep 2025, 14:58 WIB | Oleh:
Pengusaha Mal Teriak! Omzet Jatuh 50 Persen Gara-Gara Demo Rusuh, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab? Doc: Antara Foto
Ket. (ilustrasi) Mal-Mal di Jakarta Sepi, Aksi Massa Rusuh Rugikan Pengusaha Hingga Ratusan Miliar!

Jakarta - Dampak dari aksi massa yang berujung kerusuhan pada 29 Agustus 2025 mulai terasa secara signifikan, terutama di sektor ritel dan pusat perbelanjaan. Pengusaha mal mengeluhkan penurunan transaksi hingga 50% per hari karena menurunnya jumlah pengunjung yang drastis.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, mengungkapkan bahwa dalam kondisi normal, 100 mal di Jakarta mampu menghasilkan transaksi harian hingga Rp 500 miliar. Namun, sejak terjadinya demo besar-besaran, angka tersebut terjun bebas.

"Penurunan transaksi sekitar 50% per hari sejak Jumat lalu. Hampir semua kategori gerai terdampak, kecuali kebutuhan pokok," ujar Alphonzus (1/9).

Tak hanya itu, Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, juga menegaskan bahwa omzet turun drastis, terutama di wilayah pusat kota seperti Senayan dan lokasi yang berada dekat titik demonstrasi.

Sektor yang paling terdampak meliputi:

Namun, di sisi lain, supermarket dan restoran di daerah pinggiran seperti Bogor, Serpong, Pluit, dan Cibubur masih menunjukkan peningkatan kunjungan, diduga karena faktor panic buying.

"Di daerah pinggir Jakarta, restoran dan supermarket masih lumayan naik, mungkin karena masyarakat menghindari kerusuhan," tambah Budihardjo.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kerugian ini? Apakah aparat keamanan yang gagal mengantisipasi kerusuhan? Ataukah pemangku kebijakan yang tidak mampu menjaga stabilitas publik?

Para pelaku usaha berharap ada perlindungan nyata dari pemerintah, serta insentif pemulihan ekonomi untuk sektor ritel dan pusat belanja yang terdampak.

Kondisi ini menjadi cerminan bahwa stabilitas sosial sangat mempengaruhi denyut ekonomi masyarakat. Jika situasi ini terus berlarut, tak hanya pengusaha yang merugi, tapi juga jutaan pekerja di sektor ritel yang bisa kehilangan mata pencaharian.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Mensesneg: Presiden Lantik ...
Olahraga
Shin Tae-yong Ditunjuk jadi...
Luar Negeri
Turki Sebut Krisis Iran Bis...
Megapolitan
Pemkot Bogor Gelar Job Fair...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
BMKG Catat Tsunami Tertinggi Terjadi di Talengan-Sangihe, Sulut

BMKG Catat Tsunami Tertinggi Terjadi di Talengan-Sangihe, Sulut

08 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 5
# 5
Ratifikasi IEU-CEPA Dorong Daya Saing
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.