Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Deteksi Dini Kunci Pencegahan Masalah Kesehatan pada Anak

📅 Senin, 01 Sep 2025, 18:23 WIB | Oleh:
Deteksi Dini Kunci Pencegahan Masalah Kesehatan pada Anak Doc: Danone
Ket. Seorang anak sedang menjalani pemeriksaan kesehatan. Menurut Medical & Scientific Affairs Director Nutricia Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, deteksi dini menjadi kunci pencegahan masalah kesehatan pada anak.

JAKARTA – Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam bidang kesehatan, terutama terkait kesehatan anak sebagai generasi penerus bangsa. Data dari Survei Kesehatan Indonesia tahun 2024 menunjukkan 23,8% anak di bawah usia lima tahun mengalami anemia.

Sementara, Survei Status Gizi Indonesia 2024 Kementerian Kesehatan RI mencatat 19,8% anak menderita stunting. Selain itu, angka kelahiran prematur masih menjadi perhatian serius karena berisiko pada tumbuh kembang optimal anak, serta kondisi alergi susu sapi yang semakin meningkat dan berdampak pada asupan nutrisi anak di masa pertumbuhan.

Kondisi ini bukan hanya berdampak pada kesehatan jangka pendek, tetapi juga berimplikasi pada kualitas sumber daya manusia di masa depan, mulai dari risiko keterlambatan perkembangan kognitif, penurunan produktivitas, hingga peningkatan beban biaya kesehatan nasional.

The World Bank memperkirakan bahwa investasi pada nutrisi dapat meningkatkan produktivitas ekonomi di negara berpendapatan rendah dan menengah hingga 110 miliar dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa nutrisi bukan sekadar pelengkap, melainkan strategi utama dalam pencegahan yang mampu menekan biaya kesehatan sekaligus menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan.

Sejalan dengan itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa gizi yang lebih baik berkorelasi dengan peningkatan kesehatan pada anak, ibu, sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat, serta kehamilan dan persalinan yang lebih aman. Fakta ini menegaskan pentingnya pendekatan preventif melalui nutrisi lebih efektif dibandingkan hanya menunggu penyakit muncul.

Dalam upaya mendorong transformasi kesehatan preventif, Danone Specialized Nutrition Indonesia berpartisipasi dalam forum internasional Healthcare Innovation Leaders Asia 2025 yang diselenggarakan di Jakarta pada 27–28 Agustus 2025.

Forum tersebut merupakan wadah kolaborasi antara pemimpin kesehatan, pembuat kebijakan, serta inovator global untuk membahas tantangan kesehatan di Asia, mulai dari transformasi digital kesehatan, rumah sakit pintar berbasis AI, hingga kemitraan publik-swasta untuk memperkuat keberlanjutan sistem kesehatan.

Medical & Scientific Affairs Director Nutricia Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menjelaskan bahwa pencegahan adalah investasi penting karena mampu menyelamatkan banyak orang sekaligus menekan biaya kesehatan.

“Riset menunjukkan intervensi preventif efektif jika biayanya terjangkau, mencegah perawatan lanjutan yang mahal, dan menjangkau populasi dalam skala besar sehingga dampaknya signifikan. Hal ini sangat relevan dengan situasi di Indonesia, dimana masalah stunting, anemia, kelahiran prematur, hingga alergi protein susu sapi,” katanya melalui keterangannya pada hari Senin (1/9).

Permasalah tersebut masih menjadi tantangan besar yang jika tidak dicegah akan berdampak serius pada kualitas hidup anak serta menambah beban biaya kesehatan nasional. Salah satu caranya adalang dengan deteksi dini.

“Deteksi dini menjadi kunci pencegahan masalah kesehatan pada anak, salah satunya dengan inovasi seperti ‘Iron Calculator’ maupun pemeriksaan digital non-invasif yang kami inisiasi, risiko kesehatan anak dapat dikenali lebih cepat sehingga intervensi tepat bisa dilakukan sebelum terlambat,” tegasnya.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Departemen Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menunjukkan bahwa skrining dini dan intervensi preventif nutrisi memegang peran penting dalam menurunkan risiko masalah kesehatan anak dan potensi biaya perawatan jangka panjang.

“Early screening and detection merupakan langkah awal untuk mengenali risiko kesehatan anak lebih cepat, namun harus dibarengi dengan intervensi gizi sejak dini. Pencegahan pada anemia dapat dilakukan melalui suplementasi zat besi, vitamin C dan fortifikasi makanan,” paparnya.

Ia menambahkan, untuk pencegahan stunting bisa dilakukan sejak masa kehamilan dengan pemenuhan nutrisi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, dan asupan protein hewani bagi anak di atas 6 bulan. Sedangkan, kelahiran prematur dapat dicegah dengan pola makan sehat serta suplementasi zat besi dan asam folat, serta upaya pencegahan pada anak dengan alergi protein susu sapi dapat dilakukan dengan identifikasi alergen dan pemberian alternatif nutrisi yang aman.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Jepang akan Menaikan Biaya Visa Lima Kali Lipat Mulai 1 Juli

42 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Jepang akan Menaikan Biaya ...
Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

Waspada! Prakiraan Cuaca BMKG Ada Potensi Hujan Pemicu Banjir dan Longsor di Sumut Rabu Besok

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.