Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Sutejo, Doktor Sastra yang Turun ke Ladang Demi Ketahanan Pangan Bangsa

📅 Selasa, 19 Agu 2025, 08:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Mereka juga dilibatkan ketika musim panen yang harus menggunakan linggis. Prosesi penggalian tanah untuk mengangkat biji uwi dan gembili juga menjadi ajang hiburan karena dilakukan dengan suasana gembira.

Selain itu, melibatkan para mahasiswa tersebut juga untuk mengingatkan para generasi muda agar menghargai dan mencintai pekerjaan para orang tua mereka di desa yang umumnya sebagai petani.

Meskipun tujuan awalnya hanya untuk mengisi waktu dan menjadi sarana rekreasi murah meriah yang menyehatkan jiwa raga, tapi hasil berkebun itu ternyata sangat menggembirakan, dan secara tidak langsung telah mendukung program pemerintah di bidang diversifikasi pangan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menekankan pentingnya memperkuat penganekaragaman pangan berdasarkan kearifan lokal di seluruh Indonesia.

Kalau di wilayah timur Indonesia dikenal dengan konsumsi sagu, di Madura dengan jagung, di Jawa, termasuk Madura, masyarakat biasa mengonsumsi umbi-umbian, meskipun sifatnya berupa selingan dari beras atau nasi.

Atas arahan Mentan itu, Sutejo sudah mempraktikkan, dengan memenuhi sebagian kebutuhan pangan dari jenis umbi-umbian, yang di zaman dulu sudah menjadi kebiasaan para leluhur bangsa kita di Jawa dan sekitarnya.

Pada awalnya, bukan berniat mengurangi makan nasi, tetapi ketika sudah terbiasa memakan umbi-umbian itu, perut terasa kenyang dan tidak tertarik lagi untuk mengonsumsi nasi. Artinya, diversifikasi pangan dalam keluarga terjadi secara alamiah, ketika kita terbiasa mengonsumsi umbi-umbian.

Sutejo dan keluarga, termasuk anak asuhnya, akhirnya terbiasa mengurangi makan nasi, dari awalnya 3 kali sehari, menjadi hanya 2 kali. Bahkan, tidak jarang hanya makan nasi 1 kali sehari.

Secara pribadi, ia mencatat, rata-rata sekali makan per orang dalam keluarga itu mencapai 0,6 kg. Sementara menurut catatan Badan Pangan Nasional (BPN), pada 2018, rata-rata masyarakat mengonsumsi beras per kapita per tahun mencapai 97,1 kg atau 8,09 kg per bulan atau 0,27 per hari atau 0,09 kg per sekali makan.

Kalau gerakan mengonsumsi makanan selain beras ini terus menerus menjadi kebiasaan individu, bahkan keluarga, kemudian meluas ke masyarakat, maka secara nasional kita juga bisa mengurangi ketergantungan pada beras secara signifikan.

Pembiasaan memakan umbi-umbian ini akan menjadi ikhtiar yang sejalan dengan niat pemerintah untuk mewujudkan surplus beras di tanah air.

Meskipun terlihat sebagai upaya terbatas dalam skala kecil, memanfaatkan lahan kosong dengan menanam umbi-umbian ini, jika dilakukan serempak, maka dampaknya akan sangat luar biasa dalam mendukung program mewujudkan Indonesia surplus beras di masa mendatang.

Artinya program surplus beras ini juga bisa dilakukan bukan hanya pada lahan pertanian penghasil beras, melainkan juga bisa dilakukan di sekitar rumah, kemudian dapur atau meja makan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Setelah AGI, Dunia Harus Si...

Masa Depan Bursa Dipertaruhkan

45 menit yang lalu | Lukman

Ekonomi
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
Luar Negeri
Prancis Konfirmasi Kasus Eb...
Rona
Data Biometrik SIM Benarkah...
Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

Update Klasemen Sementara Piala Dunia 2026: Kolombia dan Inggris Memimpin di Grup K dan L

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.